10 Lauk Pendamping Indonesia Terbaik 2026, Perkedel Duduk di Puncak

10 Lauk Pendamping Indonesia Terbaik 2026, Perkedel Duduk di Puncak Kekayaan kuliner Indonesia tidak hanya terlihat dari hidangan utama seperti rendang, sate, soto, dan aneka nasi berbumbu. Sajian pendamping juga mempunyai peran besar dalam membentuk rasa, tekstur, serta kelengkapan satu porsi makanan. Kehadiran perkedel, tempe, sambal, atau kerupuk sering kali menentukan tingkat kenikmatan sebuah hidangan.

TasteAtlas menempatkan perkedel sebagai lauk pendamping Indonesia dengan penilaian tertinggi dalam daftar yang diperbarui pada 15 Juli 2026. Perkedel memperoleh nilai 4,3, disusul tempe mendoan dengan nilai 4,2. Nasi kuning, sambal, dan tempe goreng berada di posisi berikutnya dengan nilai 4,1.

Pemeringkatan tersebut disusun berdasarkan penilaian pengguna TasteAtlas. Dari 988 penilaian yang masuk, sebanyak 741 diakui sistem sebagai penilaian yang sah. TasteAtlas juga mengingatkan bahwa daftar tersebut bukan keputusan mutlak mengenai kualitas makanan, melainkan sarana untuk memperkenalkan hidangan lokal kepada pembaca yang lebih luas.

Daftar sepuluh besar menghadirkan komposisi yang beragam. Ada olahan kentang, kedelai, nasi, cabai, serta kerupuk berbahan tepung dan hasil laut. Sebagian dapat dimakan sebagai lauk, sementara lainnya berfungsi sebagai pelengkap yang memperkuat rasa hidangan utama.

Menurut penulis, kekuatan lauk pendamping Indonesia terletak pada kemampuannya mengubah makanan sederhana menjadi sajian yang terasa lengkap. Sepiring nasi hangat dapat memiliki karakter berbeda hanya dengan mengganti jenis sambal, tempe, atau kerupuk yang disajikan.

1. Perkedel Menempati Peringkat Pertama

Perkedel memperoleh nilai 4,3 dan menempati posisi teratas. Sajian ini umumnya dibuat dari kentang yang digoreng atau dikukus, kemudian dihaluskan dan dicampurkan dengan bawang, merica, daun seledri, serta bahan lain sesuai kebiasaan masing masing keluarga.

Adonan dibentuk bulat pipih sebelum dicelupkan ke dalam telur kocok dan digoreng. Lapisan telur menghasilkan permukaan berwarna keemasan, sedangkan bagian dalamnya tetap lembut. Perpaduan tersebut membuat perkedel mudah dipasangkan dengan makanan berkuah maupun nasi berbumbu.

Perkedel mempunyai banyak variasi. Selain kentang, masyarakat Indonesia mengenal perkedel jagung, perkedel ikan, perkedel tahu, dan perkedel daging. Nama perkedel disebut memiliki hubungan dengan kata frikadel dari bahasa Belanda, tetapi pengolahannya di Indonesia berkembang menjadi hidangan dengan ciri tersendiri.

Perkedel kentang sering hadir sebagai pendamping soto ayam, sop daging, nasi kuning, nasi uduk, dan hidangan rumah makan Padang. Teksturnya menyerap kuah dengan baik tanpa langsung kehilangan bentuk apabila kentang diolah dengan benar.

Rasa perkedel sebaiknya tidak terlalu kuat karena fungsinya melengkapi lauk lain. Bawang goreng, merica, pala, dan daun seledri dapat digunakan secukupnya. Sebagian resep menambahkan daging cincang agar rasa gurihnya lebih tebal.

2. Tempe Mendoan Membawa Ciri Khas Banyumas

Tempe mendoan berada di posisi kedua dengan nilai 4,2. Hidangan khas wilayah Banyumas tersebut menggunakan tempe tipis yang dicelupkan ke dalam adonan tepung berbumbu, lalu digoreng dalam waktu singkat.

Kata mendoan berkaitan dengan istilah dalam bahasa Banyumasan yang mengarah pada keadaan setengah matang atau lembek. Karena itu, mendoan yang sesuai cirinya tidak digoreng sampai kering seperti keripik. Permukaannya berlapis adonan lembut, sedangkan bagian dalamnya tetap empuk dan hangat.

Bumbu adonan biasanya terdiri atas bawang putih, ketumbar, garam, kunyit, dan daun bawang. Irisan daun bawang memberi aroma segar sekaligus bintik hijau yang terlihat pada permukaan tepung.

Mendoan paling nikmat disantap sesaat setelah diangkat dari minyak. Pelengkapnya dapat berupa cabai rawit hijau, sambal kecap, atau sambal kacang. Di Purwokerto dan daerah sekitarnya, makanan ini banyak dijual di warung, pasar, rumah makan, serta pusat oleh oleh. Mendoan juga dikenal sebagai salah satu olahan tempe yang banyak ditemukan di wilayah tersebut.

Sebagai lauk, mendoan cocok mendampingi nasi penggel, pecel, soto, sayur lodeh, dan nasi putih. Lapisan tepungnya memberi rasa gurih, sementara tekstur tempe menghadirkan kepadatan yang cukup mengenyangkan.

3. Nasi Kuning Menjadi Sajian Lengkap yang Kaya Rempah

TasteAtlas menempatkan nasi kuning di posisi ketiga dengan nilai 4,1. Walaupun lebih sering dianggap sebagai makanan utama, nasi kuning juga dimasukkan dalam kelompok sajian pendamping karena dapat disajikan bersama beragam lauk dalam satu susunan makanan.

Nasi kuning dibuat dengan memasak beras bersama kunyit, santan, serai, daun salam, dan daun jeruk. Kunyit menghasilkan warna kuning yang kuat, sedangkan santan memberi rasa gurih serta tekstur nasi yang lebih lembut.

Di berbagai daerah, nasi kuning mempunyai susunan lauk yang berbeda. Masyarakat Jawa sering menyajikannya bersama ayam goreng, telur balado, kering tempe, perkedel, mi goreng, sambal, dan serundeng. Di Kalimantan Selatan, nasi kuning dapat dipadukan dengan ikan haruan atau ikan gabus yang dimasak menggunakan bumbu merah.

Nasi kuning juga kerap dibentuk menjadi tumpeng untuk acara syukuran, ulang tahun, peresmian usaha, dan pertemuan keluarga. Bentuk kerucut membuat nasi ditempatkan sebagai pusat sajian, sedangkan lauk disusun mengelilinginya.

Keunggulan nasi kuning berada pada kemampuannya menerima lauk dengan rasa berbeda. Ayam berbumbu manis, sambal pedas, telur gurih, dan acar segar dapat berada dalam satu piring tanpa membuat rasa nasi menghilang.

4. Sambal Menjadi Pelengkap yang Sulit Dipisahkan

Sambal menempati posisi keempat dengan nilai 4,1. Istilah sambal mencakup sangat banyak olahan cabai yang berbeda menurut bahan, daerah, dan cara pembuatannya.

Bahan dasarnya dapat berupa cabai merah, cabai rawit, garam, bawang merah, bawang putih, tomat, terasi, jeruk limau, gula, atau cuka. Sebagian sambal disajikan mentah, sedangkan jenis lain ditumis sampai minyak dan bumbunya menyatu.

Indonesia mempunyai sambal terasi, sambal bawang, sambal ijo, sambal bajak, sambal roa, sambal dabu dabu, sambal korek, sambal embe, dan banyak pilihan lain. Setiap jenis dirancang untuk mendampingi hidangan tertentu, walaupun penggunaannya dapat disesuaikan dengan selera.

Sambal terasi cocok disajikan bersama ayam goreng, ikan asin, tempe, tahu, dan lalapan. Sambal ijo banyak ditemukan dalam hidangan Minangkabau.

Posisi sambal dalam daftar tersebut menunjukkan bahwa lauk pendamping tidak selalu harus berbentuk makanan padat. Beberapa sendok sambal mampu memperkuat rasa nasi dan lauk utama secara langsung.

5. Tempe Goreng Tetap Menjadi Pilihan Rumah Tangga

Tempe goreng memperoleh nilai 4,1 dan menempati peringkat kelima. Hidangan ini terlihat sederhana, tetapi cara pemberian bumbu dan penggorengan sangat menentukan hasilnya.

Tempe dibuat melalui fermentasi kacang kedelai menggunakan kapang. Proses tersebut menyatukan biji kedelai menjadi bentuk padat yang mudah dipotong dan diolah. Tempe kemudian dapat dimasak menjadi bacem, mendoan, orek, keripik, atau tempe goreng berbumbu.

Untuk membuat tempe goreng, potongan tempe biasanya direndam dalam campuran bawang putih, ketumbar, garam, kunyit, dan air. Setelah bumbu meresap, tempe digoreng sampai permukaannya berwarna kecokelatan.

Bagian luar tempe goreng terasa kering, sedangkan bagian tengahnya tetap padat dan sedikit kenyal. Aroma kedelai yang telah difermentasi berpadu dengan bawang serta ketumbar, menghasilkan rasa gurih yang cocok dimakan bersama nasi panas.

Tempe goreng dapat dipasangkan dengan sayur asem, tumis kangkung, sambal terasi, pecel, gudeg, dan nasi uduk. Harganya yang relatif terjangkau membuatnya tetap menjadi pilihan lauk di rumah, warung makan, kantin, dan restoran tradisional.

6. Sambal Matah Memberikan Rasa Segar Khas Bali

Sambal matah berada di posisi keenam dengan nilai 4,0. Berbeda dari banyak sambal lain, bahan sambal matah tidak dihaluskan menjadi pasta.

Sambal ini dibuat dari irisan bawang merah, cabai rawit, serai, daun jeruk, garam, serta air jeruk. Bahan tersebut kemudian dicampur dengan minyak kelapa atau minyak panas sehingga aromanya keluar tanpa membuat seluruh irisan kehilangan tekstur.

Kata matah dalam bahasa Bali mengarah pada keadaan mentah. Ciri tersebut terlihat dari bawang dan cabai yang masih terasa segar ketika dikunyah. Rasa pedasnya tajam, tetapi dibantu oleh wangi serai, daun jeruk, serta sedikit rasa asam.

Sambal matah sering disajikan bersama ayam betutu, ikan bakar, sate lilit, bebek goreng, dan nasi campur Bali. Ikan bakar menjadi pasangan yang sangat sesuai karena rasa segar sambal membantu menyeimbangkan minyak serta aroma asap.

Menurut penulis, sambal matah memperlihatkan bahwa bahan sederhana tidak selalu membutuhkan proses panjang. Ketepatan ukuran irisan dan keseimbangan minyak, garam, serta jeruk justru menjadi bagian terpenting.

7. Kerupuk Menambah Tekstur Renyah

Kerupuk berada di peringkat ketujuh dengan nilai 4,0. Istilah kerupuk mencakup kelompok makanan renyah yang dibuat dari adonan pati, bumbu, dan bahan pemberi rasa.

Jenisnya sangat beragam, antara lain kerupuk bawang, kerupuk ikan, kerupuk kulit, kerupuk merah, kerupuk gendar, kerupuk pasir, dan kerupuk aci. Adonan umumnya dikukus, diiris, dikeringkan, lalu digoreng sampai mengembang.

Kerupuk memberi perbedaan tekstur pada hidangan yang didominasi nasi, sayur, atau kuah. Bunyi renyah ketika digigit membuat pengalaman makan terasa lebih beragam.

Masyarakat Indonesia menyajikan kerupuk bersama nasi goreng, pecel, gado gado, bubur ayam, soto, ketoprak, nasi uduk, dan berbagai makanan lain. Kerupuk juga dapat diremukkan ke dalam kuah agar sedikit lunak sekaligus menyerap bumbu.

Walaupun dianggap pelengkap, kerupuk dapat mempunyai kedudukan penting dalam satu hidangan. Bubur ayam tanpa kerupuk, misalnya, akan kehilangan salah satu unsur tekstur yang paling mudah dikenali.

8. Sambal Tomat Menawarkan Pedas yang Lebih Seimbang

Sambal tomat menempati posisi kedelapan dengan nilai 4,0. Penggunaan tomat membuat sambal ini memiliki rasa pedas yang lebih ringan, sedikit asam, dan cenderung manis dibandingkan sambal bawang.

Bahan yang digunakan biasanya terdiri atas cabai merah, cabai rawit, tomat matang, bawang merah, bawang putih, garam, gula, dan terasi. Seluruh bahan dapat digoreng terlebih dahulu sebelum diulek, lalu ditumis kembali agar rasanya lebih pekat.

Tomat membantu menambah jumlah sambal tanpa membuat tingkat pedasnya terlalu tinggi. Air alami dari tomat juga menghasilkan tekstur yang lebih lembut sehingga sambal mudah dicampurkan dengan nasi.

Sambal tomat cocok disajikan bersama ayam goreng, ikan bakar, telur dadar, tahu, tempe, dan sayuran rebus. Bagi keluarga yang mempunyai anggota dengan selera pedas berbeda, jumlah cabai rawit dapat dikurangi tanpa menghilangkan warna merah yang menggugah selera.

Terasi bersifat pilihan, tetapi penambahannya dapat memberi rasa gurih yang lebih kuat. Jeruk limau juga dapat digunakan menjelang penyajian untuk menghadirkan aroma segar.

9. Kerupuk Udang Membawa Rasa Hasil Laut

Kerupuk udang berada di peringkat kesembilan dengan nilai 3,6. Jenis kerupuk ini dibuat dari campuran udang yang dihaluskan, tepung tapioka, bawang putih, garam, dan bumbu lain.

Adonan dibentuk memanjang dan dikukus sampai matang. Setelah dingin, adonan diiris tipis, kemudian dijemur sampai benar benar kering. Potongan tersebut akan mengembang ketika dimasukkan ke dalam minyak panas.

Kerupuk udang mempunyai aroma hasil laut yang cukup jelas dengan rasa gurih alami. Warnanya dapat berupa putih, merah muda, atau sedikit kecokelatan, tergantung jumlah udang serta bahan tambahan yang digunakan.

Pelengkap ini sering hadir bersama nasi goreng, soto, rawon, lontong, nasi campur, dan hidangan peranakan. Dalam soto Lamongan, kerupuk udang dapat dihaluskan bersama bawang putih goreng untuk membuat koya yang ditaburkan ke dalam kuah.

Kerupuk udang perlu disimpan dalam wadah tertutup karena mudah menyerap kelembapan udara. Apabila dibiarkan terbuka, teksturnya cepat melempem dan aroma udangnya berkurang.

10. Nasi Timbel Membawa Aroma Daun Pisang

Nasi timbel melengkapi posisi sepuluh besar dengan nilai 3,6. Hidangan khas Sunda ini menggunakan nasi hangat yang dibungkus rapat memakai daun pisang.

Panas dari nasi membantu mengeluarkan aroma daun, menghasilkan wangi lembut yang tidak ditemukan pada nasi yang disajikan langsung dari penanak. Bungkus daun juga membantu menjaga suhu nasi sebelum makanan dibawa ke meja.

Nasi timbel biasanya disajikan bersama ayam goreng atau ayam bakar, ikan asin, tahu, tempe, sambal terasi, dan lalapan. Sayur asem kerap ditambahkan untuk memberi kuah segar yang menyeimbangkan lauk goreng.

Lalapannya dapat terdiri atas mentimun, kemangi, kol, tomat, kacang panjang, dan terung hijau. Sayuran mentah tersebut memberi rasa segar setelah menyantap ayam, ikan asin, atau sambal yang kuat.

Walaupun disebut nasi timbel, daya tariknya terletak pada susunan satu porsi yang lengkap. Nasi beraroma daun pisang menjadi pusat hidangan, sementara sambal, lalapan, tahu, tempe, dan lauk hewani membangun rasa secara bergantian.

Penyajiannya juga memperlihatkan ciri rumah makan Sunda yang menempatkan kesegaran bahan sebagai bagian utama. Daun pisang, sayuran mentah, sambal yang baru diulek, serta lauk yang digoreng menjelang penyajian membuat nasi timbel tetap diminati hingga 2026.