Ransel Tak Tersentuh di China, Turis Kagum pada Rasa Aman di Ruang Publik

Ransel Tak Tersentuh di China, Turis Kagum pada Rasa Aman di Ruang Publik Kisah seorang turis yang meninggalkan ransel berisi barang pribadi di kawasan ramai China menjadi perhatian luas. Bukan karena barang itu hilang, melainkan karena ransel tersebut tetap berada di tempat yang sama setelah ditinggal cukup lama. Peristiwa ini kemudian dibicarakan sebagai gambaran tentang rasa aman yang dirasakan sebagian wisatawan asing ketika berada di ruang publik China.

Laporan ANTARA yang mengutip Xinhua menyebut pengalaman itu dilakukan oleh kreator konten asal Afrika Selatan bernama Jannelize Bessenger, yang dikenal melalui kanal “Because I’m Lizzy”. Ia meninggalkan ransel di salah satu area komersial sibuk di Chongqing, China barat daya, lalu berkeliling sekitar 100 menit sebelum kembali dan mendapati barangnya tetap aman.

Kejadian di Chongqing yang Membuat Banyak Orang Terkejut

Chongqing dikenal sebagai kota besar dengan jalanan bertingkat, kawasan belanja ramai, kuliner malam, serta lampu kota yang padat warna. Di kota itulah Bessenger melakukan percobaan sederhana yang kemudian mengundang perhatian, yakni meninggalkan ransel tanpa pengawasan di tempat umum.

Ransel yang ditinggalkan tersebut berisi barang pribadi. Dalam banyak kota besar di dunia, tindakan seperti itu tentu sangat berisiko. Barang dapat berpindah tangan dalam hitungan menit, terutama di kawasan padat pengunjung. Namun, pengalaman Bessenger memperlihatkan hal berbeda. Setelah hampir dua jam berjalan menyusuri kota, mencicipi makanan lokal, dan menikmati suasana malam, ia kembali ke titik semula dan ranselnya masih berada di tempat yang sama.

Kisah itu menjadi menarik karena bukan sekadar soal satu ransel yang tidak dicuri. Ada pesan sosial yang lebih kuat dari pengalaman tersebut, yaitu rasa percaya pada ruang bersama. Ketika seseorang berani meninggalkan barang berharganya di area ramai, ia sedang menunjukkan bahwa ada keyakinan tertentu terhadap lingkungan sekitar.

Bessenger sendiri tidak terkejut dengan hasil tersebut. Ia mengaku sudah berkali kali membuktikan bahwa barang yang ditinggalkan tidak mudah hilang di China. Baginya, rasa aman menjadi salah satu alasan utama mengapa ia memilih tinggal di negara tersebut.

Sosok Bessenger dan Pengalaman Tujuh Tahun di China

Jannelize Bessenger bukan wisatawan yang baru datang sebentar. Ia telah tinggal di China selama tujuh tahun dan saat ini menetap di Kunming, ibu kota Provinsi Yunnan. Pengalaman panjang itu membuat penilaiannya tidak hanya berdasarkan satu kunjungan singkat.

Sebagai kreator konten asing, Bessenger kerap membuat video tentang kehidupan sehari hari di China. Ia merasa banyak orang luar belum benar benar mengetahui bagaimana rasa aman dirasakan dalam keseharian masyarakat di sana. Karena itu, ia membuat konten yang memperlihatkan hal hal sederhana, mulai dari berjalan malam, meninggalkan barang, hingga berinteraksi dengan warga lokal.

Pengalamannya sebagai perempuan asing yang tinggal seorang diri juga menjadi bagian penting dari cerita ini. Ia menyebut dapat berjalan pada pukul 23.00 sambil mendengarkan musik, mencari udara segar, atau menjelajah tanpa perlu terlalu cemas. Bagi wisatawan solo, terutama perempuan, rasa aman seperti ini menjadi hal yang sangat bernilai.

Kesan pertamanya terhadap China juga terbentuk dari bantuan orang asing saat ia sakit di Nanchang pada 2019. Saat itu ia belum fasih berbahasa Mandarin dan kesulitan mencari rumah sakit. Seorang pria yang ia mintai bantuan menggunakan aplikasi penerjemah justru menemaninya naik kereta bawah tanah menuju rumah sakit, lalu pergi tanpa meminta imbalan.

Rasa Aman yang Terlihat dari Hal Kecil

Bagi wisatawan, rasa aman sering kali tidak hanya dinilai dari jumlah petugas keamanan atau kamera pengawas. Rasa itu justru muncul dari kejadian kecil yang dialami langsung, seperti dompet yang tertinggal tetapi kembali, tas yang tidak berpindah tempat, atau warga lokal yang membantu tanpa pamrih.

Kisah ransel di Chongqing masuk dalam kategori tersebut. Peristiwa sederhana itu mudah dipahami publik karena hampir semua orang pernah merasa cemas saat membawa barang berharga di tempat ramai. Ketika sebuah ransel bisa dibiarkan tanpa pengawasan dan tetap aman, cerita itu langsung terasa dekat dengan pengalaman banyak orang.

Di beberapa negara, wisatawan harus selalu memeluk tas di dada, mengunci koper, dan berhati hati saat berada di stasiun, pasar, atau pusat belanja. Karena itu, cerita dari China terasa mencolok. Bagi Bessenger, kebiasaan masyarakat setempat yang menghormati barang orang lain membuat kehidupan harian terasa lebih tenang.

Namun, pengalaman ini tetap tidak berarti wisatawan boleh abai. Setiap perjalanan tetap membutuhkan kehati hatian. Tidak semua tempat memiliki kondisi yang sama, dan tindakan meninggalkan barang berharga tanpa pengawasan tetap bukan kebiasaan yang perlu ditiru secara sembarangan. Yang bisa dibaca dari kisah ini adalah bagaimana pengalaman personal wisatawan membentuk kesan kuat terhadap keamanan suatu negara.

China Masuk Jajaran Tinggi dalam Indeks Rasa Aman

Cerita Bessenger juga sejalan dengan laporan internasional mengenai rasa aman publik. Gallup melalui Global Safety Report 2025 mencatat bahwa 73 persen orang dewasa di dunia merasa aman berjalan sendirian pada malam hari, angka tertinggi sejak Gallup melacak ukuran tersebut hampir dua dekade lalu.

Gallup juga menjelaskan Law and Order Index disusun dari empat pertanyaan utama, yakni rasa aman berjalan sendirian pada malam hari, kepercayaan pada kepolisian setempat, pengalaman pencurian uang atau properti, serta pengalaman menjadi korban penyerangan atau perampokan dalam 12 bulan terakhir. Dalam daftar terbaru, China memperoleh skor 93, sejajar dengan Islandia dan Vietnam, serta berada di bawah Tajikistan, Singapura, dan Kosovo.

Angka tersebut membantu memberi gambaran lebih luas terhadap cerita para wisatawan. Rasa aman bukan hanya soal satu orang yang meninggalkan tas. Ia juga berkaitan dengan persepsi masyarakat, ketertiban umum, kepercayaan terhadap aparat, serta pengalaman warga dalam kehidupan sehari hari.

Meski begitu, data persepsi tetap perlu dibaca dengan hati hati. Survei menunjukkan apa yang dirasakan responden, bukan jaminan bahwa semua wilayah bebas dari risiko. Kota besar tetap memiliki kerumitan masing masing, termasuk keramaian, perbedaan budaya, hingga potensi kelalaian pribadi. Namun, posisi China dalam indeks tersebut memberi latar kuat mengapa banyak wisatawan asing merasa nyaman saat menjelajah.

Wisatawan Lain Juga Merasakan Hal Serupa

Cerita tentang rasa aman di China tidak hanya datang dari Bessenger. Dalam laporan yang sama, YouTuber asal Kanada Dave Mani dan istrinya disebut merasa nyaman membawa perlengkapan kamera mahal saat berkeliling kota maupun daerah pedesaan di China.

Mani mengatakan, setelah mengunjungi 56 negara, ia menilai China berada di posisi sangat tinggi dalam hal keamanan umum. Sebagai kreator konten independen, ia membawa peralatan kerja yang nilainya tidak kecil. Kamera, lensa, perangkat penyimpanan, hingga perlengkapan pendukung menjadi bagian penting dari pekerjaannya. Kehilangan satu barang saja dapat mengganggu seluruh perjalanan.

Ia juga menyoroti penggunaan teknologi dalam kehidupan harian. Ketika membutuhkan bantuan, warga lokal disebut cepat memakai aplikasi penerjemah untuk berkomunikasi. Aplikasi pembayaran digital seperti WeChat Pay juga membuat transaksi terasa lebih mudah dan aman bagi wisatawan yang sudah menyesuaikan diri dengan sistem setempat.

Bagi turis asing, bantuan kecil seperti itu dapat sangat berarti. Hambatan bahasa sering menjadi masalah utama saat bepergian. Ketika warga lokal bersedia membantu dengan teknologi penerjemah, jarak komunikasi menjadi lebih pendek. Dari situ, rasa aman tidak hanya datang dari rendahnya risiko pencurian, tetapi juga dari kesiapan orang sekitar membantu saat dibutuhkan.

Ruang Publik yang Membentuk Kesan Wisatawan

Ruang publik adalah wajah pertama yang dinilai wisatawan ketika datang ke sebuah negara. Bandara, stasiun, jalan besar, pasar malam, pusat belanja, dan transportasi umum menjadi tempat yang memperlihatkan bagaimana ketertiban bekerja dalam kehidupan harian.

Di China, banyak wisatawan asing menilai ruang publik terasa teratur dan nyaman untuk dijelajahi. Lampu kota yang terang, transportasi yang terhubung, pembayaran digital yang luas, serta kebiasaan warga yang tertib memberi pengalaman berbeda bagi pendatang. Dalam kisah Bessenger, hal itu terlihat ketika ia berani berjalan malam dan menikmati suasana kota tanpa rasa cemas berlebihan.

Kesan seperti ini sangat penting bagi industri pariwisata. Wisatawan biasanya tidak hanya mengingat objek wisata terkenal. Mereka juga mengingat bagaimana rasanya berjalan dari hotel ke restoran, naik transportasi umum, membeli makanan di kios, atau bertanya arah kepada orang lokal. Bila pengalaman kecil itu terasa aman, citra sebuah negara ikut menguat.

China sendiri mencatat kunjungan wisatawan mancanegara melampaui 150 juta pada 2025, naik lebih dari 17 persen secara tahunan. Dari jumlah tersebut, lebih dari 30 juta wisatawan asing masuk melalui kebijakan bebas visa China.

Antara Kekaguman dan Kehati Hatian Wisatawan

Kisah ransel yang tidak dicuri di Chongqing memang mengundang kagum, tetapi wisatawan tetap perlu menjaga barang bawaan. Perjalanan internasional selalu menuntut kesiapan, apalagi ketika membawa paspor, uang tunai, kartu bank, gawai, kamera, atau dokumen penting.

Bagi wisatawan Indonesia, cerita ini dapat menjadi bahan pembelajaran saat merencanakan perjalanan ke China. Rasa aman yang tinggi tidak berarti semua risiko hilang. Barang berharga tetap sebaiknya dibawa dekat dengan tubuh, dokumen penting disimpan rapi, dan tas tidak dibiarkan terbuka di tempat ramai.

Ransel Bessenger aman setelah ditinggal sekitar 100 menit, tetapi tindakan serupa bukan anjuran umum. Setiap kota memiliki keadaan berbeda, setiap lokasi memiliki tingkat keramaian berbeda, dan setiap perjalanan punya risiko sendiri. Sikap paling tepat adalah menikmati rasa aman tanpa kehilangan kewaspadaan.

Kekaguman terhadap China dalam cerita ini justru semakin kuat ketika dibaca secara seimbang. Negara tersebut dinilai memberi pengalaman nyaman bagi banyak wisatawan, tetapi wisatawan yang baik tetap memahami etika ruang publik. Tidak meninggalkan barang sembarangan, tidak mengganggu fasilitas umum, dan tetap menghormati aturan setempat adalah bagian dari tanggung jawab selama bepergian.

Cerita Viral yang Memperkuat Daya Tarik China bagi Turis

Kisah seperti ini mudah menyebar karena menyentuh rasa penasaran publik. Banyak orang ingin tahu apakah benar sebuah ransel berisi barang berharga bisa tetap aman di tempat ramai. Ketika jawabannya iya, cerita itu langsung menjadi bahan perbincangan di media sosial.

Bagi China, pengalaman wisatawan asing seperti Bessenger, Dave Mani, dan Ana Rosa Neumann Devers memberi nilai promosi yang kuat. Mereka tidak hanya menampilkan gedung tinggi, makanan, atau destinasi populer, tetapi juga keseharian yang terasa aman. Justru dari pengalaman biasa seperti berjalan malam, bertanya arah, atau meninggalkan tas, citra sebuah negara dapat terbentuk di benak calon turis.

Di mata banyak pembaca, keamanan adalah alasan penting dalam memilih tujuan perjalanan. Harga tiket murah dan tempat wisata bagus tetap kurang lengkap bila rasa aman tidak hadir. Karena itu, cerita ransel yang tidak dicuri di Chongqing menjadi lebih dari sekadar kisah viral. Ia memperlihatkan bagaimana pengalaman kecil seorang turis dapat mengangkat perbincangan besar tentang ketertiban, keramahan warga, dan kenyamanan hidup di ruang publik China.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *