Inflasi China Kembali Melemah, Konsumen Masih Enggan Membuka Dompet Inflasi China kembali menunjukkan pelemahan ketika kemampuan sektor produksi belum sepenuhnya diikuti oleh kekuatan belanja rumah tangga. Data terbaru memperlihatkan kenaikan harga konsumen melambat pada Juli 2026, sementara penjualan ritel hanya tumbuh tipis dan aktivitas jasa masih berada di wilayah kontraksi pada Agustus.
Biro Statistik Nasional China mencatat indeks harga konsumen atau CPI naik 0,5 persen pada Juli dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut turun cukup tajam dari kenaikan 1,0 persen pada Juni. Secara bulanan, CPI bahkan turun 0,1 persen.
Kondisi tersebut memperlihatkan persoalan yang sudah lama menjadi perhatian pemerintah Beijing. China mempunyai kemampuan produksi sangat besar dan ekspor tetap menjadi salah satu penopang ekonomi, tetapi rumah tangga belum kembali berbelanja dengan kekuatan yang diharapkan.
Ketika konsumen menahan pengeluaran, perusahaan menghadapi kesulitan menaikkan harga. Persaingan kemudian semakin ketat dan produsen harus mempertahankan penjualan melalui potongan harga atau efisiensi biaya.
Inflasi Juli Turun Menjadi 0,5 Persen
Pelemahan CPI menjadi salah satu indikator paling mudah terlihat mengenai terbatasnya tekanan harga di China.
Pada Juni 2026, CPI masih meningkat 1,0 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebulan kemudian, kenaikannya tinggal 0,5 persen. Rata rata inflasi selama Januari sampai Juli berada di angka 0,9 persen.
Kenaikan harga yang rendah sebenarnya dapat menguntungkan konsumen karena biaya hidup tidak meningkat terlalu cepat. Namun, inflasi yang terlalu rendah dalam periode panjang juga dapat menjadi tanda bahwa permintaan tidak cukup kuat.
Perusahaan akan semakin sulit menaikkan harga ketika konsumen berhati hati. Margin keuntungan dapat tertekan apabila biaya bahan baku dan tenaga kerja tetap naik.
Situasi semakin rumit ketika masyarakat percaya harga barang masih dapat turun. Sebagian pembelian bernilai besar dapat ditunda karena konsumen merasa tidak harus segera mengeluarkan uang.
Harga Makanan Masih Menekan CPI
Makanan menjadi salah satu komponen yang menahan inflasi Juli.
Harga makanan secara keseluruhan turun 1,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Harga daging turun sekitar 6,0 persen, sementara harga daging babi jatuh 13,3 persen. Buah segar turun 1,1 persen dan produk susu turun 1,5 persen.
Di sisi lain, harga telur meningkat cukup tinggi sebesar 14,4 persen.
Perubahan harga pangan mempunyai pengaruh penting karena makanan merupakan pengeluaran rutin rumah tangga.
Harga daging babi juga mendapat perhatian khusus dalam perekonomian China karena komoditas tersebut memiliki bobot cukup besar dalam pola konsumsi masyarakat.
Ketika harga komoditas utama turun cukup dalam, CPI dapat melemah meskipun beberapa kelompok barang lain mengalami kenaikan.
Inflasi Inti Juga Melambat
Indikator lain yang perlu diperhatikan adalah inflasi inti.
CPI inti yang mengeluarkan komponen makanan dan energi naik 0,9 persen pada Juli. Pada Juni, kenaikannya masih mencapai 1,0 persen.
Pergerakan inflasi inti sering dipakai untuk melihat tekanan harga yang lebih mendasar karena makanan dan energi dapat mengalami perubahan tajam akibat cuaca maupun pergerakan komoditas global.
Pelemahan menjadi 0,9 persen memperlihatkan kenaikan harga pada kelompok barang dan jasa lainnya juga belum kuat.
Harga barang konsumsi hanya naik 0,2 persen secara tahunan. Sementara harga jasa meningkat 0,7 persen.
Angka tersebut masih sangat rendah dibandingkan inflasi yang terjadi di banyak negara besar lainnya.
“Menurut penulis, persoalan China bukan sekadar membuat harga naik lebih cepat, melainkan bagaimana membuat rumah tangga kembali merasa cukup yakin untuk membelanjakan pendapatannya.”
Penjualan Ritel Hanya Tumbuh 0,6 Persen
Data konsumsi memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kehati hatian rumah tangga.
Penjualan ritel China pada Juli hanya naik 0,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut melambat dari 1,0 persen pada Juni dan jauh di bawah perkiraan ekonom dalam survei Reuters yang berada di sekitar 1,5 persen.
Penjualan ritel merupakan salah satu indikator utama untuk menilai aktivitas konsumsi.
Pertumbuhan hanya 0,6 persen menunjukkan masyarakat belum meningkatkan belanja secara agresif meskipun pemerintah sudah menjalankan sejumlah kebijakan untuk mendorong konsumsi.
Rumah tangga masih menghadapi ketidakpastian mengenai pekerjaan, penghasilan, harga rumah, serta nilai kekayaan yang tersimpan dalam properti.
Ketika ketidakpastian tinggi, masyarakat cenderung meningkatkan tabungan dan mengurangi pembelian yang dapat ditunda.
Krisis Properti Masih Membebani Kepercayaan Konsumen
Sektor properti mempunyai hubungan sangat dekat dengan kondisi keuangan rumah tangga China.
Selama bertahun tahun, apartemen menjadi salah satu tempat utama masyarakat menyimpan kekayaan. Ketika harga rumah naik, pemilik merasa kondisi keuangannya semakin kuat dan lebih nyaman melakukan konsumsi.
Keadaan berubah setelah sektor properti mengalami krisis panjang.
Harga rumah melemah di banyak kota, pengembang menghadapi kesulitan keuangan dan aktivitas pembangunan mengalami penurunan besar.
Survei Reuters terhadap sejumlah lembaga pada akhir Agustus memperkirakan harga rumah China turun sekitar 3,4 persen sepanjang 2026. Investasi properti diperkirakan menyusut sekitar 20 persen, sedangkan penjualan berdasarkan luas lantai diproyeksikan turun sekitar 10 persen.
Angka tersebut merupakan perkiraan, tetapi menunjukkan betapa dalamnya persoalan yang masih dihadapi sektor perumahan.
Ketika nilai aset utama rumah tangga terus tertekan, keinginan untuk membeli mobil, furnitur, perangkat elektronik, atau barang bernilai besar dapat ikut melemah.
Pabrik Masih Lebih Kuat daripada Konsumen
Salah satu ciri perekonomian China saat ini adalah perbedaan antara sektor produksi dan konsumsi.
Produksi industri masih tumbuh 4,5 persen secara tahunan pada Juli. Namun, angka tersebut juga melambat dari pertumbuhan 5,3 persen pada Juni dan lebih rendah dari perkiraan pasar.
China tetap mempunyai keunggulan besar dalam industri manufaktur.
Elektronik, kendaraan listrik, panel surya, mesin, baterai, serta produk teknologi menjadi bagian penting aktivitas industrinya.
Permintaan global terhadap kecerdasan buatan juga membantu sejumlah produsen elektronik dan komponen.
Reuters mencatat perusahaan yang terkait teknologi tinggi dan ekspor menunjukkan kinerja lebih kuat, sedangkan industri yang bergantung pada konsumen domestik masih menghadapi kondisi lebih lemah.
Perbedaan tersebut membuat pertumbuhan ekonomi semakin bergantung pada produksi dan penjualan ke luar negeri.
Inflasi Produsen Ikut Menurun
Tekanan harga pada tingkat pabrik juga mulai melemah.
Indeks harga produsen atau PPI naik 3,5 persen secara tahunan pada Juli. Angka tersebut turun dari 4,1 persen pada Juni dan berada di bawah perkiraan pasar sekitar 3,8 persen.
Secara bulanan, PPI turun 0,7 persen.
Pelemahan ini sebagian dipengaruhi penurunan harga energi global, tetapi juga memperlihatkan keterbatasan kemampuan produsen meneruskan kenaikan biaya kepada pembeli.
Harga barang konsumsi pada tingkat produsen bahkan turun 0,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Harga makanan di tingkat produsen turun 2,1 persen, pakaian turun 1,1 persen dan barang kebutuhan sehari hari turun sekitar 1,0 persen.
Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan harga terkonsentrasi pada bahan baku dan beberapa sektor produksi, sementara produk yang lebih dekat kepada konsumen masih kesulitan memperoleh kenaikan harga.
Persaingan Harga Menjadi Masalah bagi Perusahaan
Permintaan yang lemah membuat perusahaan bersaing semakin ketat untuk memperebutkan pembeli.
China dalam beberapa tahun terakhir menghadapi fenomena persaingan harga agresif pada kendaraan listrik, panel surya, perdagangan elektronik, makanan, hingga berbagai barang konsumsi.
Produsen dapat meningkatkan volume penjualan dengan memberikan diskon, tetapi strategi tersebut menekan keuntungan.
Pemerintah China kemudian berusaha mengurangi persaingan berlebihan melalui kebijakan yang sering disebut sebagai upaya melawan involution.
Tujuannya adalah mencegah perusahaan terus meningkatkan kapasitas dan menurunkan harga sampai keuntungan industri menghilang.
Persoalannya, selama konsumsi belum meningkat kuat, perusahaan tetap membutuhkan cara untuk mempertahankan penjualan.
Mengurangi perang harga tanpa memperkuat permintaan dapat membuat barang semakin sulit terjual.
Keuntungan Industri Mulai Kehilangan Kecepatan
Data keuntungan perusahaan memperlihatkan tekanan tersebut.
Keuntungan industri China pada Juli masih tumbuh 11,2 persen secara tahunan, tetapi lajunya melambat dari 15,1 persen pada Juni.
Untuk periode Januari sampai Juli, keuntungan industri naik 17,6 persen. Angka itu turun dari pertumbuhan 18,7 persen selama semester pertama.
Kinerja juga tidak merata.
Perusahaan teknologi tinggi dan sejumlah industri yang memperoleh pesanan ekspor mencatat hasil lebih baik.
Sebaliknya, perusahaan yang berhubungan dengan properti serta barang konsumsi menghadapi situasi lebih berat.
Produsen minuman keras besar Kweichow Moutai, misalnya, melaporkan laba semester pertama turun sekitar 2 persen. Lemahnya konsumsi premium menjadi salah satu tanda bahwa kehati hatian belanja tidak hanya terjadi pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah.
Investasi Juga Mengalami Tekanan
Masalah tidak hanya terlihat pada konsumsi.
Investasi aset tetap China turun 6,7 persen selama tujuh bulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut lebih dalam dari kontraksi 5,7 persen pada Januari sampai Juni.
Investasi penting karena pembangunan pabrik, properti, infrastruktur dan fasilitas usaha menghasilkan permintaan terhadap bahan bangunan, mesin, tenaga kerja dan jasa.
Ketika investasi turun, sejumlah rantai ekonomi ikut kehilangan aktivitas.
Pelemahan properti menjadi salah satu penyebab utama.
Pemerintah memang terus meningkatkan proyek infrastruktur dan menyediakan pembiayaan bagi pemerintah daerah, tetapi pengeluaran tersebut membutuhkan waktu sebelum masuk ke aktivitas ekonomi yang lebih luas.
PMI Agustus Memberi Sedikit Sinyal Perbaikan
Data terbaru yang dirilis pada 31 Agustus menunjukkan industri manufaktur mulai membaik setelah pelemahan tajam pada Juli.
PMI manufaktur naik menjadi 49,8 pada Agustus dari 49,2 pada Juli. Angka tersebut masih berada di bawah batas 50 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi, tetapi jaraknya semakin tipis.
Indeks produksi naik menjadi 50,4.
Indeks pesanan baru juga meningkat cukup kuat menjadi 50,6 dari 48,5 pada Juli.
Perbaikan pesanan memberikan sedikit harapan bahwa aktivitas pabrik dapat menguat setelah penurunan pada bulan sebelumnya.
Namun, situasi perusahaan kecil masih jauh lebih lemah. PMI perusahaan kecil berada pada 47,9, sedangkan perusahaan besar mencapai 50,6.
Kesenjangan tersebut menunjukkan pemulihan tidak dirasakan secara merata oleh seluruh kelompok usaha.
Sektor Jasa Belum Ikut Pulih
Kondisi berbeda terlihat di luar manufaktur.
Indeks aktivitas nonmanufaktur berada pada 49,0 pada Agustus, tidak berubah dari Juli. Indeks aktivitas jasa tercatat 49,3.
Angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas masih mengalami kontraksi dibandingkan bulan sebelumnya.
Indeks pesanan baru nonmanufaktur bahkan turun menjadi 44,1.
Untuk sektor jasa, indeks pesanan baru berada pada 44,5 setelah turun 0,7 poin dibandingkan Juli.
Data tersebut memperkuat gambaran bahwa konsumsi domestik masih menjadi bagian yang sulit diperbaiki.
Beberapa bidang seperti telekomunikasi, layanan internet dan teknologi informasi berada dalam kondisi kuat. Namun, perdagangan grosir, ritel serta sejumlah aktivitas pasar lainnya masih berada di bawah batas ekspansi.
Pasar Tenaga Kerja Membuat Rumah Tangga Berhati Hati
Keputusan seseorang untuk berbelanja tidak hanya dipengaruhi oleh harga barang.
Kepastian memperoleh pendapatan dalam beberapa bulan berikutnya sama pentingnya.
Indeks tenaga kerja dalam PMI manufaktur berada pada 48,7 pada Agustus. Di sektor nonmanufaktur, indeks tenaga kerja hanya 45,4. Keduanya berada di bawah angka 50.
Angka tersebut tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan, tetapi menunjukkan perusahaan secara umum masih berhati hati dalam perekrutan.
Kondisi tersebut dapat membuat rumah tangga menahan pembelian besar.
Ketika seseorang tidak yakin terhadap stabilitas pekerjaannya, uang tunai dan tabungan menjadi lebih berharga daripada barang baru.
Situasi ini menjadi salah satu alasan kebijakan untuk mendorong konsumsi tidak selalu langsung menghasilkan peningkatan penjualan.
Pemerintah Menambah Dukungan Fiskal
Beijing terus berusaha memperkuat permintaan melalui berbagai instrumen.
Pemerintah mempercepat belanja infrastruktur, memberikan subsidi bunga untuk kelompok usaha tertentu dan memperluas dukungan terhadap proyek pemerintah daerah.
Reuters mencatat pemerintah juga menyiapkan fasilitas pembiayaan bernilai ratusan miliar yuan untuk mendukung proyek lokal serta memperpanjang beberapa program subsidi pinjaman.
Namun, pemerintah masih terlihat berhati hati terhadap stimulus dalam skala sangat besar.
Beijing perlu menyeimbangkan kebutuhan mendorong pertumbuhan dengan persoalan utang pemerintah daerah serta risiko investasi yang tidak produktif.
Kebijakan yang terlalu banyak diarahkan kepada proyek fisik juga tidak selalu langsung meningkatkan belanja rumah tangga.
Uang harus sampai kepada konsumen melalui pekerjaan, kenaikan pendapatan, bantuan sosial atau peningkatan rasa aman terhadap kondisi ekonomi.
“Membangun lebih banyak kapasitas produksi tidak otomatis membuat masyarakat membeli lebih banyak. China kini membutuhkan kepercayaan rumah tangga sama besarnya dengan kebutuhan menjaga aktivitas pabrik.”
Ekspor Masih Menjadi Penyangga Penting
Ketika konsumsi domestik lemah, ekspor membantu menjaga mesin industri tetap berjalan.
China mempunyai kemampuan besar memasok berbagai produk ke pasar dunia, terutama elektronik, mesin, kendaraan listrik, baterai serta perangkat teknologi.
Perusahaan yang berhubungan dengan kecerdasan buatan juga mendapatkan pesanan kuat dari luar negeri.
Namun, ketergantungan pada ekspor membawa risiko tersendiri.
Negara lain semakin mempersoalkan surplus perdagangan China dan kapasitas industri yang dianggap terlalu besar dibandingkan permintaan dalam negeri.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent pada akhir Agustus kembali meminta negara G20 mempertimbangkan kebijakan perdagangan yang lebih keras terhadap China. Ia menilai ketidakseimbangan antara kapasitas produksi dan konsumsi domestik China tidak dapat dipertahankan terus menerus.
Tekanan perdagangan dapat membatasi kemampuan Beijing menggunakan ekspor sebagai jalan keluar dari lemahnya konsumsi lokal.
Properti Tetap Menjadi Titik yang Sulit Diabaikan
Upaya memperkuat konsumsi akan sulit berjalan cepat selama sektor perumahan masih menekan kekayaan rumah tangga.
China pada akhir Agustus kembali mengubah sejumlah aturan kredit properti. Kebijakan baru mengarahkan penyaluran hipotek kepada proyek yang sudah selesai, berbeda dari model penjualan awal yang selama bertahun tahun menjadi sumber pembiayaan penting pengembang.
Pemerintah juga memperpanjang tenor maksimum kredit perumahan sampai 40 tahun.
Langkah tersebut dapat membantu menurunkan pembayaran bulanan bagi sebagian pembeli.
Namun, analis menilai perubahan aturan kredit saja belum cukup membuat masyarakat kembali membeli rumah dalam jumlah besar.
Konsumen membutuhkan keyakinan bahwa harga tidak terus turun, proyek akan selesai, pekerjaan stabil dan pendapatan cukup untuk membayar cicilan selama bertahun tahun.
Selama keyakinan tersebut belum pulih, sebagian rumah tangga kemungkinan tetap memilih menyimpan uang daripada meningkatkan pengeluaran.
Inflasi Rendah Memberi Ruang Kebijakan tetapi Bukan Jawaban Tunggal
Inflasi 0,5 persen memberikan ruang yang cukup besar bagi pemerintah dan bank sentral untuk mempertimbangkan dukungan tambahan tanpa menghadapi tekanan harga konsumen yang tinggi.
Namun, suku bunga rendah tidak selalu cukup ketika masyarakat memang tidak ingin meminjam.
Permintaan kredit dapat tetap lemah apabila perusahaan tidak melihat peluang ekspansi dan rumah tangga enggan membeli properti.
Karena itu, persoalan China semakin bergeser dari ketersediaan uang menuju kemauan masyarakat serta perusahaan untuk menggunakannya.
Data Agustus menunjukkan pesanan manufaktur mulai membaik, tetapi aktivitas jasa dan perekrutan masih lemah.
Perhatian berikutnya akan tertuju pada data konsumsi Agustus serta kebijakan yang dipilih Beijing untuk memperkuat pendapatan rumah tangga, menstabilkan sektor properti dan membuat kenaikan aktivitas pabrik dapat bergerak lebih jauh menuju toko, restoran serta berbagai layanan yang bergantung pada belanja masyarakat.






