Teknik Memancing

61

Kapan ide mewawancari kursi kosong itu lahir? Cerita awalnya bagaimana?

Sejak pandemi, saya pernah mewawancarai Pak Jokowi dan saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan spesifik, mengenai potensi mudik memicu penyebaran virus atau tentang kinerja menteri kesehatan, misalnya. Namun presiden tentu bicara kebijakan dalam garis-garis besar karena eksekusi pasti dilakukan dan dikawal para pembantunya. Itulah sebabnya, sejak kasus pertama ditemukan pada awal Maret, berkali-kali saya berusaha terus mengundang Pak Terawan.

Namun, karena Pak Terawan belum merespons, saya berpikir perlunya pendekatan yang dapat menerobos kebekuan informasi mendasar tentang Covid-19. Saya merasa cukup urgent bagi pemerintah menjelaskan langkah-langkah yang sudah, sedang, dan akan diambil secara padu, tidak fragmentaris dan tersebar dari berbagai institusi ad hoc, karena kadang kala pernyataan pejabat-pejabat itu berbeda-beda, dan tidak jarang saling bertabrakan.

Ide menghadirkan kursi kosong itu muncul saat kami berdiskusi secara internal untuk menjawab pertanyaan sederhana: bagaimana mendudukkan perkara penanganan Covid-19 ini pada tempatnya. Kata kuncinya: Duduk perkara. Duduk. Kursi. Jadi, mengajukan pertanyaan di hadapan kursi yang kosong, yang sedianya kursi itu diduduki Pak Terawan, adalah usaha mendudukkan penanganan Covid ini kepada kursinya —artinya kepada proporsinya.

Ada yang mengatakan bahwa mestinya presiden yang duduk di situ, karena presiden adalah tampuk tertinggi eksekutif. Pendapat itu tidak salah, tapi jangan lupa saya pernah mewawancarai Presiden Jokowi. Dan salah satu pertanyaan spesifik saya adalah soal kinerja menteri kesehatan. Saat itu presiden menilai kinerja Pak Terawan bagus-bagus saja. Setelah wawancara itu, presiden dalam salah satu rapat sempat bicara reshuffle, namun tidak ada reshuffle kan? Jadi, saya menilai presiden masih dalam posisi yang sama terkait kinerja menkes.

Pernahkah di luar negeri ada host TV melakukan seperti itu?

Di negara-negara dengan tradisi demokrasi dan debat yang sudah mengakar, menghadirkan bangku kosong sudah kerap terjadi. Tahun lalu saja, seingat saya, Sky News di Amerika dan BBC di Inggris melakukannya. Setelah saya nonton lagi beberapa sample interview yang menghadirkan bangku kosong, saya menangkap kesan bahwa di negara-negara seperti itu, ketidakhadiran para pejabat publik dianggap sebagai sesuatu yang serius.

Jon Snow, jurnalis senior di Inggris, yang lama mengampu program Channel 4 News, pernah menyoroti hal ini dalam sebuah artikel yang menarik beberapa tahun lalu. Ia menutup artikelnya dengan pertanyaan penting: “Should we just lie back and allow the ripples of unavailability to wash over us as we sink into a stupor of not knowing quite what the Government is trying to do, even if they do?”

“Even if they do,” kata Jon Snow, menyiratkan bahwa pemerintah telah melakukan sesuatu adalah satu hal, tapi menjelaskan hal itu dengan padu adalah hal yang sama pentingnya.