Ramadan, Wacanakan Vaksinasi Ditunda

OKU – Dinkes OKU berencana menunda vaksinasi bagi pelayan publik di Kabupaten OKU selama bulan suci Ramadan. “Pertengahan April 2021 sudah masuk bulan puasa. Selama Ramadan, mungkin vaksinasi dihentikan sementara waktu,” ucap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes OKU, Andi Prapto.

Penundaan ini, lanjut Andi, untuk mengantisipasi terjadinya hal – hal yang tidak diinginkan jika umat Muslim divaksin di siang hari saat berpuasa. Pasalnya, kondisi tubuh manusia akan menjadi lemah ketika sedang berpuasa.

Dikhawatirkan berbahaya jika divaksin. “Itu baru wacana. Untuk kepastian penundaan ini kami masih menunggu instruksi dari Kemenkes RI,” ungkap Andi.

Terkait usulan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten OKU yang menyarankan agar proses vaksin dilaksanakan malam hari selama Ramadan, Andi mengatakan kemungkinan sulit terwujud. “Untuk pemberian vaksin malam hari terkendala tenaga vaksinator yang dinilai kurang memadai,” terang Andi.

Diungkapkan Andi, 90 persen tenaga vaksinator di Kabupaten OKU ini merupakan perempuan yang mengurus rumah tangga, sehingga sulit terwujud. “Namun, usulan MUI ini akan kami kaji lagi,” imbuh Andi.

Seperti diwartakan sebelumnya, Ketua MUI OKU, Adhmiati Somad menyampaikan bahwa umat Muslim dibolehkan divaksin meskipun sedang berpuasa. Berdasarkan Fatwa MUI Nomor 13 Tahun 2021 tentang Hukum Vaksinasi COVID-19 Saat Berpuasa, pemberian vaksin Sinovac yang dilakukan dengan cara injeksi intramuskular atau menyuntikkan obat melalui otot tidak membatalkan puasa.

Hukum melakukan vaksinasi COVID-19 bagi umat Islam yang sedang berpuasa dengan cara injeksi intramuskular ini boleh dilakukan sepanjang tidak menyebabkan bahaya (dlarar). Meski demikian, MUI memberikan rekomendasi kepada pemerintah, yaitu vaksinasi dapat dilakukan dengan memperhatikan kondisi umat Islam yang sedang berpuasa.

“Proses vaksinasi juga bisa dilaksanakan pada malam hari selama bulan Ramadan dengan pertimbangan jika siang hari dikhawatirkan menyebabkan bahaya akibat lemahnya kondisi fisik. Itu bisa dilaksanakan jika tenaga vaksinatornya memungkinkan,” ucapnya.