Terpaksa Kurangi Kacang Kedelai

3
Produksi tahu milik Bukhori yang dilakukan secara manual di desa Batumarta I. Foto: gunawan/oku ekspres. (*)

OKU – Tingginya harga kedelai yang merupakan bahan utama pembuatan tahu dan tempe membuat produsen mengurangi bahan baku. Bahkan ada yang memilih tidak produksi tahu dan tempe untuk sementara waktu.

Salah satu pabrik rumahan pembuat tahu di desa Batumarta I, tepatnya di Blok c, masih bertahan untuk memproduksi tahu. Agar produksi tahu bisa bertahan, produksi tahun terpaksa mengurangi kacang kedelai.

“Kami terpaksa mengurangi takaran timbangan dari biasanya,” ucap Bukhori, pemilik tempat pembuatan tahu di rumahnya, kemarin (6/1). Ia menjelaskan, ukuran tahu yang dibuat tidak berubah. Alasannya, jika ukuran semakin kecil, maka konsumen akan kecewa.

Biasanya, dalam sekali produksi, ia bisa menghabiskan 70-80 kg kacang kedelai. Namun, saat harga kacang kedelai naik, ia terpaksa mengurangi kacang kedelai hingga 50 kg untuk sekali produksi.

“Saat harga kacang kedelai naik, kami tidak berani membeli banyak kacang kedelai. Bisanya, dalam satu minggu, saya bisa membeli 125 kg kacang kedelai. Saat ini, saya hanya membeli 100 kg kacang kedelai,” ungkapnya.

Produksi tahu ini dilakukan dua kali sepekan, yaitu menjelang pasar mingguan. Jika harga kacang kedelai masih tetap tinggi hingga beberapa waktu mendatang, rencananya Bukhori tidak akan memproduksi tahu untuk sementara waktu. “Tahu akan dibuat lagi bila harga kedelai turun atau normal kembali,” paparnya.

Sedangkan usaha tahu yang sudah berhenti produksi sejak harga kacang kedelai naik adalah usaha tahu milik Poni di blok N, desa Battuwinangun. “Kami hanya berharap, harga kacang kedelai dapat kembali normal agar kami bisa kembali memproduksi tahu,” pungkas Poni. (gun)