Berat Dikurangi, Harga Dipertahankan

8
Harga kedelai impor asal Amerika Serikat naik. Dari Rp 7 ribu/kg menjadi Rp9.400/kg. Kenaikan harga tidak hanya berdampak ke pedagang kedelai, tapi juga pelaku UMKM yang memproduksi tempe. Foto : Mustofa/Oku Ekspres. (*)

OKU – Meroketnya harga kedelai menyulitkan produsen tempe tahu di berbagai daerah. Bahkan di beberapa kota, produsen tempe tahu berhenti produksi untuk sementara waktu. Hal ini sebagai imbas dari tingginya harga bahan pokok makanan tersebut.

Tingginya harga kedelai juga dirasakan pedagang kedelai di Kabupaten OKU. Bahkan harga tersebut mulai naik sejak tiga bulan terakhir.

“Kenaikan harga sedikit-sedikit dari Rp100 – 500/kg. Tapi sekarang kenaikan harga justru sangat tinggi,” ujar Lina, pemilik toko kedelai Sumber Rezeki, kemarin (4/1).

Sebelumnya, kedelai dijual Rp7.000/kg, kini naik menjadi Rp9.400/kg. Namun, ia memberikan dua harga berbeda untuk pelanggannya. Untuk harga pelanggan berbeda dengan harga untuk pembeli yang bukan pelanggan.

Tingginya harga jual kacang kedelai ini berimbas pada tingkat penjualan. Sebab, produsen tempe dan tahu pelanggan tetapnya tidak berani membeli kacang kedelai dalam jumlah banyak. “Kadang masih terjual banyak, kadang terjual sedikit, ” ungkap Lina.

Tak dipungkirinya, dampak harga bahan pokok tempe dan tahu yang meroket itu membuat produsen tempe tahu beralih profesi. Tapi ada juga beberapa produsen yang masih bertahan. “Cari pendapatan lain, nanti ketika harga kedelai stabil, produsen tempe-tahu yang beralih profesi akan kembali memproduksi tempe,” ungkapnya.