Rindu Pembelajaran Tatap Muka

“Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan”, begitulah ungkapan kejenuhan yang kerap dilontarkan oleh sebagian besar orang. Ya, kegiatan pembelajaran di sekolah seolah berada pada kondisi tidak menentu. Lebih dari 8 bulan kita harus membuat format pembelajaran jarak jauh. Belajar dari rumah (dan mengajar/mendidik dari rumah). Maka muncullah ide-ide pembelajaran secara virtual, dengan menggunakan berbagai aplikasi seperti: zoom meeting, goegle meet, skipe, webex, dan lain-lain.

Agus Sudiana, S.Pd, MM (Kepala SMAN 2 OKU)

Kita bertiarap, seraya memutar otak untuk mencari formula terbaik agar peserta didik tidak kehilangan haknya dalam menerima materi kurikulum, tapi di sisi lain kita meminimalisasi terjadi “kontak fisik” seperti yang selama ini dilaksanakan.

Untuk peningkatan kompetensi guru/pendidik, berbagai lembaga penyelenggara pelatihan menawarkan pelatihan secara daring juga. Sebutlah, webinar, diklat online, dan lain-lain.

Berbagai kegiatan baik yang diikuti oleh guru maupun yang diselenggarakan sebagai pembelajaran jarak jauh tentu bertujuan agar gairah pembelajaran di sekolah tetap hidup. Kalender pendidikan terus bergerak, sehingga dari satu waktu ke waktu lainnya kegiatan akademik harus terisi, walaupun dengan segala keterbatasan di dalamnya.

Berbeda dengan kegiatan tatap muka, pembelajaran jarak-jauh, sekalipun menggunakan teknologi tercanggih, tetap saja menyisakan permasalahan. Interaksi antara guru dan murid tentang materi ajar boleh jadi bisa diinventarisasi oleh guru atau sekolah. Tapi pihak guru mendapatkan kesulitan untuk meyakinkan bahwa hasil kerja yang dikumpulkan siswa, apakah benar-benar hasil karya sendiri atau buatan orang tua mereka.

Pada saat interaksi berlangsungpun, guru mendapatkan kesulitan untuk menilai aspek “sikap” peserta didik. Mereka (peserta didik) berada di tempat yang berbeda-beda. Perilaku pada saat daring juga tidak bisa diprediksi. Mungkin sedang duduk manis menghadapi layar smarphone-nya, atau bisa juga sedang bermain medsos.