Penelitian dan Profesionalisme Guru

Kata penelitian identik dengan ilmuwan, atau akrab dengan kehidupan civitas akademik, lalu bagaimana ketika hal ini dihadapkan pada guru. Bagi sebagaian guru meneliti atau melakukan penelitian bukan hal yang baru, terutama dalam waktu 10 tahun terakhir ini, sejak diberlakukannya Permenpan-RB nomor 16 tahun 2009 terkait dengan aturan baru angka kredit jabatan guru. Di dalam Permenpan-RB nomor 16 tahun 2009 disebutkan salah satu subunsur dalam penilaian angka kredit guru adalah Publikasi Ilmiah dan atau Karya Inovatif yang dilakukan dan atau dibuat guru.

Sri Andriani (Kepala SMAN 16 OKU)

Persyaratan Publikasi Ilmiah dan atau Karya Inovatif bagi sebagian guru tidaklah menjadi beban, karena unsur ini memungkinkan dan bisa dipenuhi dengan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sehingga sejak inilah guru mulai akrab dengan penelitian, terutama terkait dengan persoalan di kelas sebagai upaya memperbaiki proses pembelajaran menuju hasil belajar siswa yang lebih baik, sesuai dengan tujuan dasar Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Namun, persoalan berikutnya sering muncul bahwa penyusunan Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan guru terkadang hanya sebatas kegiatan administrasi dalam upaya memenuhi unsur penilaian angka kredit, penelitian –penelitian yang dilakukan guru bukanlah berangkat dari persoalan autentik yang dihadapi guru di dalam kelas, namun hanya sebatas essay di atas kertas. Lalu bagaimana seharusnya penelitian yang dilakukan guru dalam upaya pemenuhan unsur Publikasi Ilmiah dan atau Karya Inovatif  sebagai dasar dari pengembangan karier seorang guru, bagaimana arti penting penelitian ini bagi profesionalisme seorang guru. Di samping kata meneliti memang masih menjadi momok dan beban bagi sebagian besar kalangan guru, karena dinilai merupakan kegiatan yang sulit.

Melihat dari sejarah muncul dan berkembangnya penelitian yang dilakukan guru (Teachers as researchers)  di Inggris pada era tahun 1960-an, seperti yang ditulis John Elliott (1991) dalam bukunya “Action Reseach For Educational Change” bahwa penelitian terhadap guru dilatarbelakangi oleh permasalahan kurikulum yang tidak relevan dengan dunia kerja,  John Elliott menguraikan bahwadalam mengatasi berbagai problematika tersebut dilakukan beberapa terobosan diantaranya perumusan perubahan kurikulum dan sistem ujian. Namun, kebijkaan ini tidak semuanya dapat diterima yang pada akhirnya tetap menyisakan permasalahan di dunia pendidikan, hingga para guru melakukan kolaborasi untuk melakukan diskusi-diskusi dalam upaya perubahan-perubahan dalam praktek pembelajaran yang lebih baik tanpa harus mengikuti kegiatan-kegiatan seperti  pelatihan dari universitas. Maka hal ini menyiratkan bahwa betapa strategisnya peran guru dalam proses perbaikan kualitas pendidikan, sehingga tidak akan ada arti perubahan kurikulum tanpa adanya perubahan pada guru.

Di Indonesia sendiri telah beberapa kali mengalami perubahan kurikulum dengan terakhir saat ini Kurikulum 2013. Diketahui latarbelakang dari perubahan kurikulum ini adalah relevansi dunia kerja terkait dengan keterampilan Abad 21. Maka keberhasilan dari tujuan perubahan kurikulum ini akan sangat tergantung dari bagaimana guru menterjemahkan kurikulum ini di ruang-ruang kelas. Permasalahan dan tantangan baru  dari implementasi kurikulum ini tentu akan muncul, namun potensi penyelesaiannya adalah pada kemampuan guru memahami permasalahan dan menyelesaikannya. Salah satu strategi penyelesaian permasalahan pembelajaran ini adalah melalui penelitian.