Belajar Luring Solusi Belajar Daring

Siswa SMPN 33 OKU saat mengambil materi pembelajaran dari guru. Foto : ist. (*)

OKU – Di masa pandemi Covid-19, SMPN 33 OKU masih terus menggunakan dua sistem pembelajaran. Yakni metode daring dan luring. Kedua sistem pembelajaran tersebut telah disepakati untuk digunakan selama pemerintah masih memberlakukan pandemi Covid 19.

Kepala SMPN 33 OKU Adolf Bastian SPd menyampaikan, kedua metode ini juga sesuai dengan kebijakan Kemendikbud RI. Aktifitas belajar mengajar daring dan luring ini, kata Adolf, telah  dimulai sejak awal Maret lalu. “Tapi semenjak tahun ajaran baru, kita terapkan metode luring,” ungkapnya.

Lanjut Bastian, metode daring tidak diterapkan lagi karena kondisi dan kendala yang dihadapi para siswa. Sehingga SMP yang memiliki 80 siswa ini menerapkan metode luring.

“Kendala yang dialami adalah tidak seluruh siswa memiliki ponsel pintar, sinyal internet yang tidak stabil, kuota internet, serta aliran listrik yang juga tidak stabil. Oleh karena itu, metode belajar mengajar di sekolah ini diterapkan secara luring,” ujarnya.

Menurutnya, metode luring ini digunakan dengan sistem tatap muka antara guru dan siswa. Namun pertemuan tersebut hanya sebatas mengambil materi pelajaran dari guru. Setelah itu, siswa pulang.

“Kegiatan pembelajaran luring menggunakan modul sederhana yang dibuat oleh guru dan diperbanyak oleh siswa. Tugas dari guru dikumpulkan per minggu sekaligus mengambil modul berikutnya,” papar Bastian.

Ia menambahkan, siswa yang datang ke sekolah tetap mengikuti protokol kesehatan Covid-19. Diantaranya memakai masker, cuci tangan, maupun duduk berjarak. “Dan tetap diadakan evaluasi per minggu. Hal ini merupakan solusi atas kendala pada pembelajaran daring,” jelasnya. (jr8)