Sulap Limbah Tahu Jadi Bio Gas

LIMBAH: Kepala Dinas Lingkungan Hidup saat melihat proses fermentasi limbah tahu menjadi bio gas. FOTO: IST. (*)

OKU TIMUR – Tahu menjadi salah satu mata pencaharian yang menjanjikan bagi warga dalam menopang penghasilan keluarga. Tak dapat dipungkiri, jumlah produksi tahu di beberapa daerah selalu membanjiri setiap pasar yang menjadi pusat dagang mereka. Banyaknya produsen tahu yang kian meningkat, tentu membawa keuntungan tersendiri. Selain keuntungan secara finansial, dampak lain juga ditimbulkan akibat limbah dari proses pembuatan tahu tersebut. Sebagian besar limbah tahu dibuang begitu saja, tanpa adanya proses pengolahan.

Melihat hal ini, salah satu pengusaha tahu di Desa Kumpul Rejo, Dusun 3, Kecamatan Buay Madang Timur Haryadi memanfaatkan limbah tahu untuk kebutuhan lain. Bahkan dengan metode keahliannya, dirinya mengubah limbah tahu menjadi biogas untuk kebutuhan rumah tangga.

Ide pembuatan biogas tersebut diakuinya sejak adanya teguran dari tetangga  yang tidak tahan akan bau limbah tahu tersebut. Untuk itu Ia langsung mencari cara untuk mengelolah limbah tahu. Akhirnya ada pemuda desa yang bekerja Dinas Lingkungan hidup Kabupateb OKU Timur mengajak dirinya untuk mengelola limbah tahu.

“Sejak saat itu saya mulai membangun instalasi pengolahan air limbah produksi tahu dengan mendapat bimbingan langsung dari Bidang pencemaran dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten OKU Timur. Bahkan saya langsung mendapatkan bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup melalui Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten OKU Timur berupa tengki dalam tanah, serta isntalasi pembuangan limbah yang telah di olah,” jelas haryadi.

Dikatakan, dengan adanya bio gas yang di hasilkan dari limbah tahu ini dirinya mengaku sangat tertolong. Dimana dalam satu bulan dirinya bisa menghabiskan dua tabung gas 3 kg untuk memasak air dan memasak makanan untuk kebutuhan sehari hari. Kini cukup menggunakan bio gas hasil limbah tahu.

“Limbah tahu mengandung gas-gas, yaitu metana (CH4), amonia (NH3), hydrogen sulfide (H2S), dan karbondioksida (CO2). Butuh waktu dan proses agar gas ini dapat dimanfaatkan,”katanya.

Sementara, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Fauzie Bakri mengatakan, instalasi pengolahan limbah ini mampu menampung 8.000 liter air limbah tahu. Limbah itu dialirkan ke tangki penampungan yang ada di bawah sedalam tiga meter, yang ditutup dengan beton. Kemudian limbah di fermentasi selama satu hingga dua minggu untuk menghasilkan gas metana. “Paling bagus itu satu bulan, tapi bergantung pemakaiannya juga,” kata Fauzi ketika melihat proses fermentasi limbah tahu.