Hujan, Mulyadi Tidur di Pos Siskamling

Mulyadi bersama rumahnya di kelurahan Bumi Agung, lingkungan Pasar Lama Hulu kecamatan Muaradua. Foto : Evan/HOS. (*)

OKU SELATAN – Di tengah gencarnya program Pemerintah dalam meminimalisir angka kemiskinan yang ada di Kabupaten OKU Selatan, ternyata masih ada warga yang terbilang tidak mampu dan tinggal di tengah keramaian kota.

Adalah Mulyadi (57), warga kelurahan Bumi Agung, lingkungan Pasar Lama Hulu kecamatan Muaradua Kabupaten OKU Selatan. Pria lajang ini tinggal seorang diri dengan kondisi rumah yang sangat memprihatinkan, bahkan atap bagian dalam rumah yang telah ambruk sejak enam bulan lalu hingga kini belum diperbaiki akibat tak memiliki biaya untuk melakukan perbaikan.

Mulyadi yang sehari hari berprofesi sebagai penjual es tape keliling ini memiliki penghasilan yang tak menentu. Namun kendati demikian, dirinya tetap bersyukur dan tak pernah ingin berhutang kepada tetangga ataupun warung tempat ia berbelanja.

“Dari hasil berjualan es paling tinggi dapat sekitar Rp 150 ribu.  jika cuaca tak mendukung harus rela tidak pulang modal alias rugi. Mau gimana lagi usia semakin tua cuma jualan es profesi yang saya tekuni,” ujarnya, Rabu (01/7).

Dirinya sendiri diakui Mulyadi,sudah tinggal dilingkungan Pasar Lama sejak tahun 1994. Bermula ketika ia berkerja sebagai buruh pemecah batu split ketika di era presiden Soeharto sedang membangun infrastruktur jalan di OKU Selatan.

Dahulu, terangnya dia tinggal dengan pemilik rumah yang menjadi orang tua angkatnya. Kedua pasangan suami istri yang menjadi orang tua angkatnya tersebut hingga tutup usia tidak memiliki keturunan sehingga ahli waris rumah jatuh ke tangan Mulyadi. Namun karena hanya tinggal seorang diri dirinya kerap mencoba berbagai macam profesi, seperti sebagai pedagang makanan keliling hingga tak lagi fokus mencari pasangan hidup.

Di usianya yang semakin tua, ucap Mulyadi kini dirinya menekuni profesi sebagai pedagang es tapai keliling dan rute yang ia tempuh bahkan hingga ke kecamatan Sungai Are.

“Saya kalau berjualan sampai ke kecamatan Sungai Are, tetapi karena cuaca yang terus menerus hujan apalagi adanya Covid-19 jualan saya sempat berhenti tiga bulan dan baru kemarin mulai berjualan. Tetapi musibah menimpa saya, yakni kecelakaan tunggal dan gerobak saya jadi rusak,” imbuhnya.

Atas kondisi ini dirinya berharap agar Pemerintah dapat memberikan bantuan untuk melakukan renovasi rumahnya yang sebagian telah ambruk tersebut. Sebab dirinya mengaku sama sekali belum pernah mendapat bantuan apapun, baik berupa PKH, BLT ataupun lainnya.

Mirisnya lagi jika hujan deras melanda dilingkungan tempat tinggalnya maka Mulyadi akan mengungsi ke Poskamling untuk ber istirahat.

“Kalau hujan deras saya akan ngungsi ke Poskamling dekat asrama Polisi untuk istirahat disana,” terangnya.

Melihat kondisi Mulyadi ini tim MRI ACT OKU Selatan bergerak melakukan asesment dan membantu untuk bersih-bersih rumah agar dapat nyaman dihuni, namun dibagian yang ambruk masih dibiarkan karena tim tidak membawa peralatan untuk membongkar bagian yang ambruk.

Ketua MRI ACT OKU Selatan melalui Bendahara Umum Yeni Arlina, mengatakan jika informasi terkait kondisi rumah Mulyadi tersebut didapat dari seorang anggota MRI ACT yang sedang bermain di rumah temannya. Karena melihat kondisi rumah yang tak lagi layak huni tersebut akhirnya di foto lalu dishare melalui group komunitas.

“Kami dapat informasi dari group, miris sekali melihat dari foto – foto yang dikirim. Akhirnya kami putuskan untuk datang ke lokasi dan ternyata benar kondisi rumahnya sebagian ambruk,” paparnya.

Yeni dan kawan – kawan pun berinisiatif untuk membantu membersihkan rumah Mulyadi dan memberikan bantuan berupa sembako dan pakaian, bantal, selimut serta perlengkapan sholat agar dapat digunakan.

“Alhamdulillah kita sudah bantu bersih – bersih rumah, namun untuk yang posisi ambruk masih kita biarkan karena agak ngeri juga tertimpa material. Kita juga tidak bawa alat untuk bongkar membongkar,” imbuhnya.

Sementara itu salah seorang warga yakni Syaf mengatakan jika beberapa kali para tetangga mengajak untuk gotong royong memperbaiki rumah tersebut, namun Mulyadi berdalih tak ingin merepoti tetangga dan kesibukannya menjajakan dagangan sehingga gotong royong pun tidak terlaksana.             “Kami beberapa kali mengajak beliau untuk gotong royong tapi selalu sibuk. Jadi sampai sekarang rumahnya seperti itu. Kalau kami selaku tetangga siap kapan saja untuk gotong royong memperbaiki rumahnya,” terang syaf. (try)