Minim, Kesadaran Miliki Buku Nikah

Sidang isbat pernikahan yang digelar di KUA kecamatan Lubuk Batang beberapa hari lalu. Foto: Herli Yansah/Oku ekspres (*)

OKU – Masih banyak pasangan suami istri (pasutri) yang tidak memiliki buku nikah. Hal ini membuat kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Lubuk Batang Drs. Arman Ashri.M.Si membuat terobosan untuk mempermudah pasutri memiliki buku nikah.

Cara yang ia tempuh adalah menggelar sidang isbat. Sidang ini digelar dua hari lalu di KUA Lubuk Batang.

Kepala KUA Lubuk Batang Drs. Arman Ashri.M.Si mengungkapkan, kebijakan ini diambil karena, kesadaran masyarakat untuk memiliki buku nikah masih rendah. “Sangat disayangkan. Padahal buku nikah ini sangat penting. Jika ingin membuat akta kelahiran anak, buku nikah menjadi syarat mutlak,” ujar Arman.

Ia menjelaskan ada beberapa faktor masyarakat Kecamatan Lubuk Batang tidak memiliki buku nikah. Salah satunya adalah nikah di bawah tangan atau nikah siri. “Jika ditelaah lebih jauh, banyak kerugian yang dialami pasutri dari nikah siri,” papar Arman.

Diantaranya tidak ada kekuatan hukum pernikahan. “Jadi jika suami pergi meninggalkan istri, maka istrinya tidak bisa menuntut apa-apa. Selain itu, istri juga tidak bisa mengadu kepada pemerintah karena tidak ada buku nikah,” jelasnya.

Selain itu, masih kata Arman, kerugian lainnya adalah pasutri tanpa buku nikah akan mengalami kendala saat mengurus berkas ke pemerintah. “Seperti pengurusan keberangkatan haji dan umrah,” tambah Arman.

Menurutnya, selain nikah siri, ada faktor lain yang menyebabkan pasutri tidak memiliki buku nikah. Pada tahun 2010 ke bawah, akad nikah bisa dilakukan di P3N. Di kecamatan Lubuk Batang, banyak perkara nikah di P3N yang tidak disetor ke KUA. Sehingga buku nikah pasutri tidak dikeluarkan oleh KUA.

Untuk kecamatan Lubuk Batang, dari beberapa desa yang sudah didata,  tercatat 137 pasutri yang tidak memiliki buku nikah. “Jumlah itu belum seluruh desa. Sejauh ini baru 14 pasutri yang melengkapi berkas untuk menjalani sidang isbat di KUA. Sedangkan sisanya belum,” tegas Arman.

Ia mengakui, pihaknya sudah maksimal melakukan sosialisasi ke masyarkat mengenai pembuatan buku nikah baru melalui sidang isbat di kantor KUA. “Sosialisasi ini sering dilakukan dengan kades, namun kesadaran masyarakat masih minim. Mungkin karena faktor biaya atau ada faktor lainnya, kita tidak tahu,” pungkasnya. (lee)