Selektif Memilih Pelatihan Daring

Diana Purnamasari, M.Pd. (Guru SMAN 4 OKU)

SUDAH sekian bulan, Indonesia dan dunia terpapar Covid 19. Semua berubah. Seluruh aktifitas di luar rumah dihentikan. Berbagai kegiatan diusahakan dilakukan di rumah. Tujuannya untuk menghentikan penyebaran virus tersebut. Seluruh aspek kehidupan terdampak. Ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya.

Bagi dunia pendidikan, virus ini memaksa pola belajar di sekolah, kampus, dan tempat bimbingan belajar (bimbel) berubah total. Selama ini proses belajar mengajar dilaksanakan dengan metode konvensional. Guru bertatap muka secara langsung dengan siswa yang diajar. Dari menjelaskan materi, berdiskusi, tanya jawab serta memberikan bimbingan siswa. Semua dilakukan dengan tatap muka di dalam kelas.

Di masa pandemi ini, pembelajaran di kelas ditiadakan. Proses belajar mengajar dilakukan di rumah dengan pembelajaran dalam jaringan atau daring (online). Pembelajaran ini dilakukan tanpa tatap muka secara langsung antara guru dan siswa. Guru dan siswa hanya melaksanakan proses belajar mengajar dari tempat mereka tanpa harus ke sekolah. Entah sampai kapan.

Pemerintah baru membolehkan sekolah dibuka untuk yang wilayahnya zona hijau. Tapi pembukaan sekolah ini tidak bisa serta merta dilakukan dengan cepat dan serentak. Harus bertahap.

Nah, hal ini membuat guru harus menggunakan cara baru pembelajaran. Apalagi, Indonesia belum memiliki kurikulum untuk situasi darurat seperti ini. Semua masih dilakukan dalam kondisi darurat.

Sejauh ini, cara tercepat dan populer untuk memberikan tugas dan mengumpulkan tugas adalah menggunakan WhatsApp. Tapi penggunaan aplikasi ini memiliki banyak keterbatasan. Salah satunya guru tak bisa menjelaskan materi pelajaran, sedangkan siswa tak bisa bertanya dengan leluasa.

Karena perubahan ini terjadi begitu cepat, maka tindakan yang dilakukan di  dunia pendidikan saat ini masih bersifat darurat. Misalnya guru hanya memberikan tugas kepada siswa di rumah. Kondisi ini membuat orang tua siswa kelimpungan karena harus membantu anak-anak mengerjakan tugas dari guru.

Kondisi ini tak bisa dilakukan dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, guru harus mengubah cara mengajar agar aktifitas belajar mengajar bisa dilakukan dua arah. Artinya, ada komunikasi antara guru dan siswa. Sama seperti suasana belajar mengajar di ruang kelas sebelum ada corona.