Jumlah Penumpang Turun, Ongkos Naik

Ruang tunggu penumpang di loket travel Tispa kosong. Sejak wabah corona ada di Sumsel, perusahaan travel menerapkan protokol kesehatan. Di sisi lain imbas PSBB di Palembang membuat pendapatan angkutan umum ini turun drastis. Foto: Mustofa/Oku Ekspres. (*)

OKU – Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB di kota Palembang berimbas luar biasa pada travel di Baturaja, khususnya travel jurusan Baturaja-Palembang.

Mia, petugas loket travel Tispa mengakui, penurunan jumlah penumpang sangat signifikan. Kondisi ini sangat terasa sejak wabah corona menjadi wabah di Sumatera Selatan.

“Sejak corona mewabah, jumlah penumpang turun terus,” ujar Mia yang dibincangi di loket siang, kemarin (27/5).

Kondisi tersebut sangat dirasakan pada arus mudik dan balik lebaran tahun ini. Biasanya, pada arus mudik dan balik lebaran, jumlah penumpang meningkat tajam. Bahkan perusahaan travel menambah jumlah travel untuk melayani penumpang.

Selain corona, kebijakan pemerintah kota Palembang yang menerapkan PSBB juga menambah tekanan pada bisnis transportasi ini. “Keluar masuk warga ke kota Palembang dibatasi,” paparnya.

Kemudian, masih kata Mia, pemerintah juga membatasi jumlah penumpang. “Satu mobil hanya dibolehkan berisi tiga penumpang. Tidak boleh lebih,” katanya.

Untuk sekarang, jumlah penumpang jurusan Baturaja – Palembang dalam satu hari hanya satu orang. Bahkan kadang tidak ada penumpang sama sekali. Biasanya, saat arus balik penumpang dari Baturaja ke Pelambang membludak.

Kondisi yang sama juga terjadi saat arus mudik dari Palembang ke Baturaja. Namun, karena pembatasan, calon penumpang memilih untuk tidak bepergian. “Sebelum ada wabah corona, saat ramai penumpang, setiap jam ada pemberangkatan,” ungkapnya.

Imbas pembatasan jumlah penumpang, travel terpaksa menaikkan ongkos. Biasanya, ongkos sebesar Rp100 ribu/orang. Namun sejak dua hari lalu, ongkos menjadi Rp150 ribu/orang.

“Ongkos travel lain sudah naik duluan. Ada yang mulai naik sejak H-7 lebaran hingga H+7 nanti. Sopir memang sempat mengeluhkan ongkos tidak dinaikkan karena sulit menutupi biaya operasional di jalan,” tandas Mia. (stf)