Yusuf, Puluhan Tahun Terisolir di Hutan

M Yusuf (ketiga dari kanan) yang sejak tahun 80-an memilih tinggal di hutan atas bukit desa Laya. Bahkan, karena tidak pernah keluar hutan, warga desa Laya sempat tak mengetahui Yusuf. Foto: Mustofa/Oku Ekspres. (*)

OKU – Berpuluh tahun, M Yusuf (83) warga desa Laya, kecamatan Baturaja Barat, tinggal di hutan di atas bukit dusun 3. Tempat tinggalnya berbatasan dengan desa Batuputih.

Di dalam sebuah pondok reot, Yusuf tinggal bersama putra tertuanya, Syafri Abdullah. Syafri yang berusia 60 tahun itu menenami ayahnya di dalam pondok yang tak layak huni.

“Sudah lama (tinggal) di sini. Mungkin puluhan tahun,” ujar Syafri dengan terbata-bata, kemarin (13/5) ketika ditemui Kades Laya Erlan, Sekdes Komar, dan ketua RT.

Pondok ini memiliki panjang 3,5 m dengan lebar 2 m. Berdinding bambu pecah yang tak layak pakai. Bahkan, atap rumah yang awalnya dari anyaman bambu diganti terpal biru yang kondisinya rusak.  Hanya sebagian terpal yang menaungi penghuni pondok.

Pondok tersebut berdiri di lahannya sendiri. Dari luar, bagian dapur sangat memprihatinkan. Belum lagi kayu penopang lantai rumah sudah rapuh. Perangkat desa yang datang agak sedikit ragu naik ke atas rumah karena kondisi bangunan yang cukup mengkhawatirkan.

Di desa Laya, tak banyak warga yang tahu keberadaan Yusuf. Sebab, selama ini warga di desa tersebut menduga Yusuf tinggal bersama anaknya di Lubuk Linggau. Bahkan Erlan, Kades Laya pun baru kemarin melihat Yusuf.

“Beliau dulu tinggal di dusun 1, dekat sekolah di jalan arah bukit Pelawi. Tapi tempat tinggalnya sudah dijual di tahun 80 an,” jelas Erlan.

Sejak Yusuf pindah, warga tidak banyak mengetahui keberadaan Yusuf. Sebab, setelah meninggalkan rumah lamanya, Yusuf memilih tinggal di kebun di atas bukit.

Tahun ini, warga desa Laya dibuat kaget oleh Syafri Abdullah. Karena setiap dua hari sekali, pria 60 tahun itu keluar dari pondoknya di tengah hutan berjalan kaki ke pemukiman warga di desa Laya sampai ke Saung Naga.