The Power of Students

oleh Agus Sudiana, S.Pd, M.M (ASN di SMAN 2 OKU)

Ini tidak ada kaitannya dengan demonstrasi besar-besaran sehingga bisa menggulingkan sebuah kekuatan. Bukan pula tentang komunitas yang hobi balap-balapan, tawuran, atau konvoi dan aksi corat-coret pasca pengumuman kelulusan. Ini tentang begitu berharganya kelompok anak muda ini, sehingga bisa mengubah citra dan wajah sebuah sekolah.

Siswa sebagai Anak Bawang?

Anak bawang adalah istilah untuk seseorang yang ikut dalam suatu permainan namun tidak masuk hitungan (hanya ikut-ikutan). Keberadaannya dianggap sebagai “penggembira” dan tidak menentukan hasil dari sebuah permainan itu sendiri. Mungkin karena dianggap paling belia dan belum mampu menjalankan rasionalitasnya.

Jika dikaitkan dengan peran siswa atau peserta didik di sekolah tentu istilah “anak bawang” tersebut sangat tidak cocok. Saya melihat siswa adalah elemen pokok dalam sistem lembaga pendidikan. Tak ada sekolah tanpa peserta didik.

Wikipedia menyebutkan, “Siswa atau peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan informal, pendidikan formal maupun pendidikan non formal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.”

Pentingnya peran siswa dalam suatu sekolah ditunjukkan dengan adanya konsensus bahwa “visi” sebuah sekolah “wajib” bersentuhan dengan mutu siswa sebagai calon lulusan sekolah tersebut. Misi sekolah dianggap gagal jika tidak adanya perubahan sikap yang terjadi selama siswa mengikuti pendidikan di sekolah itu.

Para pakar pendidikan sepakat, percuma bangunan fisik sebuah sekolah itu megah dan indah, jika kualitas lulusannya rendah. Tak ada artinya para pendidik sebuah sekolah unggul, kreatif, dan berpendidikan tinggi, apabila lulusan sekolah tersebut tidak memiliki kompetensi yang baik. Jika kompetensi standar saja tidak dikuasai, mana mungkin mereka kompetitif dan berkarakter tangguh.