Tengkulak Sulit Jual Karet

Getah karet yang dibeli dari petani belum diambil oleh tengkulak sejak seminggu lalu. Foto: gunawan/oku ekspres. (*)

OKU – Sudah lebih dari sebulan, pabrik pengelola karet di beberapa daerah tutup. Akibatnya banyak petani karet yang menjual karet dengan harga yang tidak sesuai dari harga biasa yang ditentukan pabrik pengelola karet.

Sepekan yang lalu, petani karet di desa Batumarta I menjual karet berumur 15 hari ke tengkulak. Namun sampai saat ini karet yang sudah terjual tersebut masih berada di tempat penimbangan karet.

H Mustofa yang merupakan ketua kelompok tani karet mengatakan, getah karet tersebut sudah dibeli oleh tengkulak. Namun belum diambil oleh tengkulak. “Getah karet sudah ditimbang dan dibayar namun belum diambil selama seminggu terakhir,” ucap Mustofa.

Ia mengakui, ia sudah menghubungi tengkulak yang membeli karet petani. Ternyata, tengkulak belum mengambil karet tersebut karena gudang karet milik tengkulak masih penuh dengan karet yang belum terjual ke pabrik. “Karet itu akan tetap diambil oleh tengkulak,” papar Mustofa.

Bakti, salah seorang tengkulak mengakui, karet saat ini susah dijual ke pabrik karena pabrik menggunakan sistem buka tutup. “Pabrik yang buka tutup tidak memberi tahu kepada tengkulak yang akan mengirim karet ke pabrik. Akibatnya karet yang sudah dibeli dari petani menumpuk di gudang,” kata Bakti.

Kondisi ini, kata bakti, membuat tengkulak rugi. Ia sangat berharap pabrik dapat menghubungi tengkulak bila pabrik akan tutup agar para tengkulak tak rugi. Saat ini harga karet yang berumur 15 hari adalah Rp6.200/kg. (gun)