MUI Tiadakan Salat Jumat

Sejak pekan kemarin, Masjid Ash Sholihin resmi ditutup. Penutupan ini berdasarkan maklumat MUI OKU untuk meniadakan salat Jumat untuk sementara waktu. Foto: Mustofa/Oku Ekspres. (*)

OKU – Majelis Ulama Indonesia (MUI) OKU resmi meniadakan salat berjamaah di masjid yang ada di Kabupaten OKU. Hal ini terungkap dalam maklumat II MUI OKU yang terbit pada 27 Maret lalu. Poin 1 maklumat tersebut berisi penyelenggaraan salat jumat digantikan salat zuhur dan dilakukan di tempat masing-masing.

“Penyelenggaraan salat jumat di Kabupaten OKU ditiadakan untuk sementara waktu,” ujar Ketua MUI OKU H Admiathi Somad, kemarin (30/3). Kendati demikian, dirinya menegaskan marbot atau muadzin tetap mengumandangkan azan sebagai penanda waktu salat.

“Muadzin dan marbot tetap salat di masjid. Salat boleh berjamaah, tapi dalam jumlah jamaah yang terbatas. Dengan catatan, jamaah yang sehat harus mengikuti protokol medis. Bagi warga yang kurang sehat, dilarang salat berjamaah,” tegas Admiathi.

Ia menyatakan, maklumat itu berlaku hingga batas waktu yang belum ditentukan. Hal ini dikarenakan masih harus melihat perkembangan kondisi penyebaran wabah corona. “Saat ini kasus Orang Dalam Pemantauan (ODP) maupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Kabupaten OKU masih bertambah. Penyebaran virus ini harus diantisipasi,” tuturnya.

Makmulat yang meniadakan salat Jumat untuk sementara ini membuat masyarakat bingung. Sebab masyarakat khawatir, jika tiga kali berturut-turut tidak melaksanakan salat Jumat, maka umat Islam (khususnya laki-laki) tersebut melanggar aturan Islam. “Insya Allah tidak (melanggar aturan). Sebab kondisi sekarang, termasuk dalam kategori darurat,” ungkapnya.