Penjualan Sembako Dibatasi

OKU – Transaksi perdagangan di tingkat agen dan pengecer sembako dibatasi pemerintah. Pembatasan penjualan ini resmi berlaku pada 27 Maret lalu setelah Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) OKU menerbitkan Surat Edaran (SE) terkait ketersediaan barang kebutuhan pokok.

“SE ini menindaklanjuti surat Dinas Perdagangan Sumatera Selatan tanggal 18 Maret,” ujar Kepala Disperindag OKU Lukmanul Hakim MSi. Pembatasan penjualan ini berlaku untuk empat jenis sembako. Yaitu beras (maks 10 kg), gula gula pasir (maks 2 kg), minyak goreng (maks 4 liter), dan mie instan (maks 2 dus).

“Pembatasan ini agar persediaan empat jenis sembako tersebut terjaga dan untuk mengantisipasi terjadinya penimbunan. Sejauh ini di Kabupaten OKU belum ada penimbunan sembako,” terangnya.

Selain menyebarkan imbauan, ketersediaan sembako di dua pasar di kota Baturaja dipantau setiap hari oleh petugas. “Selain mengumpulkan data harga sembako, petugas juga memantau ketersediaan sembako tersebut,” tandasnya.

Lisa, salah seorang pedagang sembako di Pasar Baru menuturkan, sejauh ini dirinya belum menerima imbauan dari pemerintah. “Belum tahu ada imbauan soal pembatasan pembelian. Apalagi sejak beredar isu Pasar Atas dan Pasar Baru tutup beberapa hari lalu, pasar mulai sepi,” kata Lisa.