Penjualan Masker Melonjak Tajam

Konsumen tengah membeli masker tali di sebuah apotek kota Baturaja. Foto: wendra/oku ekspres. (*)

OKU – Maraknya berita penyebaran virus corona di Tiongkok membuat masyarakat waspada. Sebagai langkah pencegahan, warga melindungi diri dari virus tersebut menggunakan masker.

Dampaknya, penjualan masker di kota Baturaja mengalami peningkatan tiga kali lipat sejak beberapa hari terakhir. “Sebelum pemberitaan virus corona marak, rata-rata hanya 1 hingga 2 dua set masker yang terjual dalam sehari. Namun, saat ini, 5 hingga 6 set masker yang terjual dalam sehari,” ujar Novita, salah seorang karyawati toko waralaba.

Novita mengatakan, isi masker dalam 1 set sebanyak 4-5 buah, tergantung dengan merek. “Untuk mengantisipasi peningkatan permintaan, kita telah memesan masker lagi. Jumlah ini untuk menambah pesanan masker yang ada,” kata Novita.

Ia mengungkapkan, dari berbagai produk masker yang dijual, jenis masker ikat yang paling banyak dibeli. Namun demikian, masker yang dijual dengan harga yang relatif sama yakni Rp9000/set. “Pembeli didominasi dari wanita berhijab,” ucap Novita.

Di lokasi lain, Mis yang merupakan pengelola salah satu apotek di kota Baturaja menambahkan, penjualan masker di apotek tersebut masih stabil. “Dalam sehari masih terjual 3-5 set masker. Untuk sebuah masker dijual Rp2000 sedangkan satu kotak (isi 50 masker) dijual Rp30 ribu,” jelas Mis.

Ia mengungkapkan, jenis masker yang banyak dibeli adalah jenis tali yang banyak dibeli wanita berjilbab. Hal ini disebabkan masker tersebut lebih mudah dipasang dan dilepas oleh pengguna yang berjilbab.

Sementara itu, Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan China telah memesan masker buatan Indonesia dalam upaya pencegahan penyebaran virus corona di negaranya. Bahkan, produksi masker sampai 3 bulan ke depan sudah dipesan untuk China.

“Seluruh produksi masker ini sudah di lock sama China,” kata Airlangga.

Airlangga mengingatkan, agar semua produksi masker juga menyiapkan kebutuhan untuk dalam negeri. Jangan sampai semua diserap untuk ekspor dan masyarakat Indonesia tidak kebagian. Sebab, semua negara saat ini hanya bisa melakukan upaya pencegahan. Sebagaimana diketahui, hingga saat ini anti virusnya pun belum ditemukan. (awi/net)