Harga Rokok Naik Duluan

Sejak pertengahan Desember kemarin, harga rokok pabrikan merangkak naik. Warung yang menjual rokok menetapkan harga yang bervariasi meski merk rokok sama. Kenaikan harga rokok merupakan imbas dari penerapan Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Sejumlah perokok bakal beralih ke tembakau racik. Foto: mustofa/oku ekspres. (*)

OKU – Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 152/2019 tentang tarif cukai hasil tembakau mulai berlaku pada 1 Januari kemarin. Dengan demikian, harga rokok naik. 

Dalam PMK, pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok sebesar 23% dan harga jual eceran (HJE) sebesar 35%.

Kenyataannya, harga jual beberapa jenis rokok sudah mengalami kenaikan secara perlahan sejak pertengahan Desember lalu. Misalnya harga Magnum Blue yang naik Rp2 ribu/bungkus. 

Rokok filter itu dijual pedagang Rp18 ribu/bungkus. “Sebelumnya saya beli cuma Rp16 ribu/bungkus. Isinya sama 16 batang,” ujar Ujang, warga kelurahan Talang Jawa, kecamatan Baturaja Barat, kemarin (2/1).

Kemudian, rokok Chift dari Rp10 ribu/bungkus menjadi Rp11 ribu/bungkus, Dunhil putih dari Rp24 ribu/bungkus menjadi Rp23 ribu/bungkus. Sementara untuk harga Clasmild kecil masih dibanderol Rp 15 ribu/bungkus, dan Clasmild besar dijual Rp20 ribu-Rp22 ribu/bungkus. Sementara Sampurna Mild menjadi Rp25 ribu/bungkus dari Rp24 ribu/bungkus.

Payah nak berenti merokok. Jadi berapo bae harga naek, masih nak dibeli tulah, ” ujar Irawan warga Rs Holindo, siang kemarin.

Sejauh ini dirinya masih bisa membeli rokok kemasan pabrik. Namun, jika harga jual rokok terus naik, kemungkinan besar dirinya akan membeli rokok racikan.

Paling-paling melinting lagi. Mungkin harga tembakau racik tidak terdampak peraturan baru pemerintah tersebut,” tutur pria yang sudah bisa melinting rokok sejak SMA ini.

Iwan, pedagang tembakau racik di Pasar Atas menyebutkan, hingga saat ini penjualan tembakau belum meningkat. Kendati penjualan rokok kemasan merangkak naik. “Masih biasa penjualan tembakau,” ujarnya.

Dirinya tak bisa memprediksi apakah kenaikan harga rokok akan berimbas pada penjualannya. Karena kabarnya, naiknya harga rokok membuat para perokok akan beralih ke rokok racikan.

“Harga tembakau racik tidak berubah. Kalau pun naik, tidak besar,” terangnya.

Tembakau racik yang dijual terdiri dua jenis. Tembakau biasa (kiloan) dan tembakau mole (kemasan).

“Tembakau biasa (kiloan) dijual Rp85 ribu/kg, tembakau mole (kemasan) bervariasi mulair Rp3.500/bungkus. Sedangkan tembakau kemasan, ada cukainya juga, ” tandasnya.

Kenaikan tarif cukai rokok terbesar yakni ada pada jenis rokok Sigaret Putih Mesin (SPM) yaitu sebesar 29,96%. Untuk cukai rokok jenis Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF) naik sebesar 25,42%, Sigaret Kretek Mesin (SKM) 23,49%, dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) 12,84%. (stf)