BKSDA Datangi Empat Kecamatan

OKU – Kehadiran harimau di kecamatan Ulu Ogan membuat geger masyarakat. Terlebih di kabupaten lain, hewan buas tersebut menyerang manusia dan memakan korban jiwa.

Untuk mencegah jatuhnya korban jiwa, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Sumatera Selatan mulai mengambil langkah pencegahan. Petugas BKSDA mulai mencari sumber valid di empat kecamatan mengenai habitat harimau.

“Yaitu di kecamatan Semidang Aji, Pengandonan, Muara Jaya, dan Ulu Ogan,” kata Herman, salah seorang petugas BKSDA Wilayah III Sumatera Selatan, kemarin. Ia menyebutkan, empat kecamatan ini merupakan bagian dari punggung bukit Nanti.

Kemarin, BKSDA juga mengeluarkan pernyataan resmi. Dalam surat bernomor S.01/K.12/SKW.3/KSA/1/2020, BKSDA menyatakan harimau yang terlihat di kebun warga merupakan harimau Sumatera atau panthera tigris sumatrae.

Selain itu, BKSDA juga menyampaikan beberapa hal. Diantaranya mengingatkan warga, harimau Sumatera tersebut merupakan satwa yang dilindungi. Kemudian, warga juga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan saat di kebun, hutan, dan daerah wisata alam.

Poin lainnya adalah tidak melakukan aktifitas yang menggangu atau merusak habitat harimau. Serta tidak memburu binatang atau satwa yang menjadi sumber makanan harimau.

Sementara itu, Kepala Perkumpulan  LLH Jejak Bumi Indonesia, Hendra A Setyawan, kehadiran hewan buas karena habitat hewan tersebut sebagian besar dirambah masyarakat.

Sebut saja Kawasan Hutan Lindung (HL) Bukit Nanti, Mekakau Saka dan SM Gunung Raya. Tiga kawasan ini, jelas Hendra, hampir sebagian besar dirambah masyarakat. Baik yang di sekitar kawasan maupun di dalam kawasan. Sangat wajar apabila habitat satwa liar yang dilindungi ini rusak.

“70 persen sudah dirambah. Tinggal 30 persen habitat satwa, ” jelas Hendra.

Menurutnya, kawasan hutan lindung banyak yang berubah jadi kebun. Padahal kawasan itu yang menjadi jelajah harimau untuk mencari makanan. Karena sumber pangan tidak ditemukan lagi. Akhirnya siapapun yang ketemu dalam kawasan tersebut jadi sasaran termasuk manusia yang berladang di kawasan hutan.

Ia juga menjelaskan, pihaknya sering sosialisasi peraturan dalam kawasan hutan,  pelestarian lingkungan, edukasi dan sosialisasi dalam kawasan hutan lindung, kebakaran hutan dan lahan. Termasuk satwa liar yang dilindungi. Terkait persoalan yang masih hangat, pihaknya akan melakukan diskusi.

“Harus segera dikoordinasikan semua pihak untuk segera mengambil sikap. Terutama pemerintah daerah biar dampak rusaknya Hutan Lindung tidak semakin  parah, ” tandasnya.

Tiga hari lalu, salah seorang warga kecamatan Ulu Ogan, Randi alias Peril bertemu dengan seekor harimau di kebun duriannya sekitar pukul 10.00 WIB.

Kebun durian Peril berada di dekat objek wisata air panas Gemuhak, desa Kelumpang, kecamatan Ulu Ogan. Kawasan ini berbatasan langsung dengan kawasan Semendo (Muara Enim) yang juga sempat diteror oleh harimau beberapa waktu lalu.

Peril datang ke kebun untuk mengambil durian yang runtuh di kebunnya. Saat mengambil buah durian, Peril melihat seekor harimau. Saat itu, Peril berada di atas tebing. Sedangkan harimau di bawah tebing. Keduanya hanya berjarak sekitar 10 meter.

Saat itu, harimau dan Peril saling lihat. Peril langsung berbicara kepada harimau ia tak berniat untuk mengganggu harimau tersebut. Jadi ia meminta harimau untuk tidak mengganggunya. Selain itu, Peril juga mengajak meminta harimau tersebut untuk pergi karena Peril juga akan pergi. Kaplosek Ulu Ogan Ipda Edi Nata mengakui, pihaknya menerima informasi salah seorang warga desa Kelumpang melihat seekor harimau di kebunnya. Untuk saat ini, ia mengimbau warga agar berhati-hati saat memasuki kebun. (stf)