Sungai Dibendung Dapat Dua Manfaat

Foto : Mustofa/Oku Ekspres. Peserta lomba dayung 31 Desember di perairan sungai Ogan. Naiknya debit sungai Ogan membuat lomba berjalan lancar. Bahkan sampah pun nyaris tak terlihat di tepi sungai. Pemerintah Kabupaten OKU disarankan untuk membendung sungai Ogan supaya debit sungai stabil. Dampaknya bisa untuk wisata dan menyelamatkan sungai dari sampah.

BATURAJA TIMUR – Masalah kebersihan di Kabupaten OKU menjadi perhatian serius Bupati OKU H Kuryana Azis. Tak hanya imbauan, tapi aksi di lapangan pun kerap ditunjukkan orang nomor satu di Bumi Sebimbing Sekundang.

Bahkan pada momen tertentu yang mengumpulkan masyarakat, dirinya tetap mengingatkan kebersihan. Seperti akhir tahun kemarin H Kuryana Azis menyebut lomba dayung di sungai Ogan sebagai ajakan masyarakat agar membiasakan menjaga kebersihan, terutama kebersihan Sungai Ogan.

“Lomba ini bertujuan untuk mengajak dan membiasakan masyarakat agar selalu menjaga kebersihan sungai, dengan tidak membuang sampah sembarangan. Sehingga sungai tetap bersih dan sehat, ” kata Kuryana.

Menurut dia, sungai Ogan menjadi bagian penting bagi masyarakat. Karena sungai menjadi salah satu sumber air masyarakat. Seperti untuk mandi, mencuci pakaian dan kegiatan lainnya.

“Jaga sungai Ogan agar selalu bersih. Jangan sampai kotor atau terpapar limbah berbahaya. Banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari sungai ini,” ajaknya.

Lomba dayung dalam rangka tutup tahun 2019 dan menyambut tahun 2020 sangat seru. Kendati bukam perahu naga. Namun tontonan tersebut sangat menghibur.

Steven, warga kelurahan Sukajadi sangat mendukung kawasan sungai Ogan di tengah kota dimaksimalkan untuk sektor wisata. Karena selain menghasilkan PAD kabupaten, sektor pariwisata juga mampu menghidupkan ekonomi masyarakat.

“Bisa dibikin bendungan di hilirnya. Supaya ketinggian air sungai stabil,” ujarnya.

Bendungan tersebut, sambung pecinta alam ini, dibuat untuk menahan laju arus sungai. Dengan posisi atap bendungan berada satu atau dua meter di bawah permukaan air sungai.

“Dengan begini air terbendung, sementara hilirnya tetap teraliri air. Jadi tidak akan kering di hilirnya meski dipasang bendung. Permukaan dua sisi (hilir dan hulu) tetap sama, ” jelasnya.

Dampak dari pembendungan ini, lanjut dia, sampah sungai lebih mudah hanyut karena tak mengendap di tepi sungai atau tersangkut di fender jembatan.

“Contoh sekarang saat air pasang, sampah rumah tangga tidak terlihat di permukaan air. Biasanya, sampah plastik bertebaran di tepi sungai,” sambungnya.

Namun jika pembendungan dilakukan, dinding di kiri dan kanan sungai harus dibuat talud. Karena dampak abrasinya sangat besar. Apalagi sambung dia, jika di wisata air tersebut disiapkan wahana banana boat atau speed boat. “Jangan bronjong karena kawat mudah putus. Sebaiknya talud,” tandasnya. (Stf)